Upaya Pengendalian Bencana Banjir

Posted on 11 views

Penyebab Terjadinya Banjir

Setelah memahami Manajemen Mitigasi Bala Banjir, tentu kita ingin tahu juga Bagaimana Upaya Pengendalian banjir itu sendiri. Nah, pada kali ini kita akan membahasi hal tersebut dengan rincian materi yaitu: Penyebab Terjadinya Banjir, Tipologi Daerah Banjir, Ciri Alur Sungai dan Tipe Banjir. Baiklah, eksklusif saja simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Kodoatie (2002) mengatakan bahwa terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya banjir, namun secara umum penyebab banjir dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori, yaitu banjir yang disebabkan oleh sebab-sebab alami dan banjir yang diakibatkan oleh tindakan insan. Yang termasuk sebab- alasannya alami diantaranya ialah sebagai berikut ini.

Sistem Pengendalian Banjir

Banjir di sekitar kita. (via: nypost.com)

1. Curah Hujan

Indonesia memiliki iklim tropis sehingga sepanjang tahun mempunyai dua musin, yaitu trend hujan yang umumnya terjadi antara bulan Oktober hingga dengan bulan Maret, dan trend kemarau yang terjadi antara bulan April hingga dengan bulan September. Pada trend penghujan, curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan bilamana melebihi tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan.

2. Pengaruh Fisiografi

Fisiografi atau geografi fisik sungai mirip bentuk, fungsi, dan kemiringan Kawasan Peredaran Sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrologi (bentuk penampang sungai), sampai lokasi sungai, adalah yang-hal-hal yang dapat menghipnotis terjadinya banjir.

3. Erosi dan Sedimentasi

Erosi dan sedimentasi di DAS berpengaruh terhadap pengurangan kapasita penampang sungai. Hal ini menjadi persoalan klasik sungai-sungai di Indonesia. Besarnya erosi dan sedimentasi akan mengurangi kapasitas saluran, sehingga timbul genangan dan banjir di sungai.

4. Pengaruh Pasang Surut Air Bahari

Air pasang laut memperlambat peredaran sungai dari hulu ke laut. Pada waktu banjir bersamaan dengan air pasang tinggi, maka tinggi genangan atau banjir menjadi besar karena terjadi peredaran balik (backwater). Hal ini acapkali terjadi di kota-kota yang letaknya di pesisir mirip Semarang dan Jakarta.

Sedangkan, yang termasuk sebab-sebab banjir karena tindakan insan diantaranya ialah sebagai berikut ini.

1. Perubahan Kawasan Peredaran Sungai (DAS)

Perubahan DAS mirip penggundulan hutan, perjuangan pertanian yang kurang sempurna, perluasan kota, dan perubahan tata guna lahan lainnya dapat memperburuk persoalan banjir karena hal ini dapat meningkatkan debit peredaran banjir.

2. Daerah Kumuh

Perumahan kumuh yang terdapat di sepanjang sungai, dapat menghambat peredaran. Persoalan daerah kumuh dikenal sebagai faktor penting terhadap persoalan banjir tempat perkotaan.

3. Sampah

Disiplin masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya masih kurang. Umunya mereka eksklusif membuang sampah dipinggir sungai atau eksklusif membuangnya ke sungai. pembuangan sampah di alur sungai dapat meninggikan muka air banjir karena debit banjir terhalangi oleh sampah.

Tipologi Daerah Banjir

Daerah rawan banjir adalah daerah yang acapkali atau berpotensi tinggi mengalami bencana banjir sesuai karakteristi penyebab banjir. Daerah tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut ini.

1. Kawasan Pantai

Kawasan pantai adalah tempat rawan banjir karena tempat tersebut adalah dataran rendah yang permukaannya lebih rendah atau sama dengan elevasi muka air laut pasang rata-rata (Mean Sea Level) dan daerah bermuaranya sungai yang biasanya mempunyai permasalahan penyumbatan.

2. Kawasan Dataran Banjir (Flood Plain Area)

Kawasan dataran banjir ialah tempat di kanan maupun kiri sungai yang muka tanahnya sangat landai dan cenderung datar, sehingga peredaran air menuju sungai yang lambat mampu mengakibatkan tempat tersebut rawan terhadap baik banjir, maupun karena hujan lokal. Menurut dirjen Penataan Ruang Departemen PU (2005), daerah Rawan Banjir (KRB) dapat dilihat pada Gambar.

Garis Sempadan Sungai

Garis Sempadan Sungai,

3. Kawasan Sempadan Sungai

Di tempat perkotaan yang padat penduduk masih acapkali dimanfaatkan sebagai daerah hunian dan kegiatan perjuangan sampai pertanian. Sehingga, apabila terjadi banjir berpotensi menimbulkan dampak bencana yang membahayakan jiwa dan harta benda.

4. Kawasan Cekungan

Wilayah-wilayah yang rentan banjir biasanya berada di tempat cekungan. Kawasan bentukan banjir dengan topografi rendah atau landai biasanya memiliki tingkatan yang acap kali terkena dampak saat terjadi banjir. Biasanya tempat  ini memiliki tingkat kelembaban tanah yang tinggi dibanding daerah-daerah lain yang jarang terlanda banjir. Kondisi kelembaban tanah yang tinggi ini disebabkan karena bentuk lahan tersebut terdiri dari material halus yang diendapkan dari proses banjir dan kondisi drainase yang buruk sehingga tempat tersebut mudah terjadi penggenangan air.

Ciri Alur Sungai

Dari daerah asal hingga berakhirnya dilaut atau dari letak geogafisnya, sungai dapat dibagi menjadi tiga tempat, yaitu : tempat hulu (pegunungan), tempat transisi, dan tempat hilir (muara atau pantai). Ketiga tempat ini menawarkan sifat dan karakteristik yang berbeda.

Kawasan hulu terutama tempat pegunungan, sungai-sungai biasanya mempunyai kemiringan yang terjal, dengan kemiringan dasar sungai antara 2-3 % atau lebih. Dampaknya saat hujan yang cukup tinggi akan menimbulkan kuat arus atau debit sungai yang kuat. Periode waktu debit peredaran biasanya berlangsung cukup singkat dan cepat.

Di tempat transisi, batas pegunungan hingga ke tempat pantai, kemiringan dasar sungai biasanya kurang dari 2%, karena kemiringan memanjang dasar sungia di tempat ini berangsur-angsur menjadi landai. Di tempat ini sudah mulai acapkali dijumpai erosi dan sedimentasi.

Hal ini mengakibatkan banjir yang terjadi akan lebih lambat dibanding di tempat hulu sungai. Sedangkan di tempat hilir, ditandai dengan kemiringan dasar sungai dari landai menuju sangat landai, bahkan bagian-bagian sungai terutama yang mendekati muara (laut) memiliki kemiringan dasar hampir 0%. Sehingga, bilamana terjadi banjir, maka periodenya lebih lama dibandingkan di tempat hulu dan tempat transisi.

Tipe Banjir

Pada wilayah yang bertopografi datar banyak menghadapi persoalan banjir dan pembuangan air (hujan). Menurut Mulyono Sadyohutomo (2009), ada dua tipe banjir, yaitu sebagai berikut ini.

  1. Banjir dari air hujan setempat yang menggenang karena drainase pada lokasi tersebut tidak baik, dan
  2. Banjir dari luapan air hulu sungai yang mengalir dari tempat hulu. Banjir ini biasanya terjadi apabila terjadi hujan pada tempat setempat dan tempat hulu secara bersamaan.

Dilihat dari aspek penyebabnya, jenis banjir yang ada dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu sebagai berikut ini.

  1. Banjir yang disebabkan oleh hujan yang lama, dengan intensitas rendah (hujan siklonik atau frontal) selama beberapa hari. Dengan kapasitas penyimpanan air yang dimiliki oleh masing-masing Satuan Wilayah Sungai (SWS) yang akhirnya terlampaui, maka air hujan yang terjadi akan menjadi limpasan yang selanjutnya akan mengalir secara cepat ke sungai-sungai terdekat, dan meluap menggenangi area dataran rendah di kiri-kanan sungai. Jenis banjir ini termasuk yang paling acapkali terjadi di Indonesia,
  2. Banjir karena salju yang mengalir, terjadi karena mengalirnya tumpukan salju dan kenaikan suhu udara yang cepat di atas lapisan salju. Peredaran salju ini akan mengalir dengan cepat jika disertai dengan hujan, dan
  3. Banjir Bandang (flash flood), disebabkan oleh tipe hujan konvensional dengan intensitas yang tinggi dan terjadi pada tempat-tempat dengan topografi yang curam di bagian hulu sungai. Peredaran air banjir dengan kecepatan tinggi akan memiliki daya rusak yang besar, dan akan lebih berbahaya jika disertai dengan longsoran, yang dapat mempertinggi daya rusak terhadap yang dilaluinya, dan
  4. Banjir yang disebabkan oleh pasang surut atau air balik (back water) pada muara sungai atau pada pertemuan dua sungai. Kondisi ini akan menimbulkan dampak besar, jika secara bersamaan terjadi hujan besar di tempat hulu sungai yang mengakibatkan meluapnya air sungai di bagian hilirnya, serta disertai badai yang terjadi di lautan atau pantai.

Pengendalian Banjir Struktural dan Non Struktural

Metode Pengendalian Banjir. (via: indonesiaexpat.biz)

Mitigasi bencana banjir dapat diartikan sebagai serangkaian upaya atau tindakan yang dilakukan dalam rangka meminimalisasi risiko yang ditimbulkan alibat bencana banjir. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan sebelum, selama, dan/atau sesudah bencana banjir terjadi. Mitigasi bencana banjir dapat diklasifikasikan atas dua bentuk, yakni mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.

Tindakan mitigasi struktural dapat dilakukan dengan cara pembuatan bendungan, kolam retensi, normalisasi alur sungai, membuat kanal banjir, dan perbaikan drainase. Sedangkan, mitigasi secara non struktural dapat dilakukan dengan menawarkan sosialisasi dan peringatan dini sebagai upaya penyelamatan diri, dan regulasi kebijakan dengan pemanfaatan ruang pada zona rawan banjir.

Begitu banyak metode ataupun upaya dapat dilakukan dalam mereduksi banjir yang akan terjadi limpasan peredaran sungai, baik dengan metode struktural maupun nonstruktural mirip

yang disajikan pada Gambar.

Bagan Pengendalian Banjir Metode Struktur dan Non Struktur

Bagan Pengendalian Banjir.

Mitigasi bencana banjir juga dapat dimaksudkan dalam perencanaan pembangunan sebagai upaya pencegahan untuk mengurangi kerugian yang akan terjadi bencana alam tersebut, utamanya dimasa yang akan datang.

Perencanaan mengacu pada proses untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara untuk melakukannya. Perencanaan yang baik memerlukan proses metedologis yang terang dan konkret, mendefinisikan tahapan-tahapan untuk mencapai solusi yang optimal.

Demikian, artikel perihal Bagaimana Upaya Pengendalian Banjir. Semoga permasalahan banjir di Indonesia mampu diminimalisir yang adalah salah satu tujuan kita mempelajarinya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Baca Juga:  Sloof

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 3 =