TUJUAN ERGONOMI

  • Share

Tujuan Ergonomi

TUJUAN ERGONOMI

TUJUAN ERGONOMI

Baca dulu: ERGONOMI ialah…

Ergonomi menawarkan sumbangan untuk rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja, agar dapat digunakan secara harmonis sesuai kebutuhan, kemampuan dan keterbatasan insan (International Ergonomics Association/IEA). Ergonomi atau dikenal dengan human factors engineering (HFE) menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku insan, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik insan lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan. Jadi ergonomi berperan dalam mencapai atau menjaga keberlangsungan kesesuaian kerja dan pekerjanya (fit the job to the man).

Tujuan terbesar dan utama dari ergonomi atau HFE secara umum ialah untuk memahami atau memperoleh pengetahuan mengenai interaksi antara insan dengan segala hal yang ada di sekitar insan (terutama dalam hal pekerjaan) dan pengetahuan tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk mengoptimalkan kesejahteraan insan dan performa keseluruhan sistem. Ergonomi atau HFE juga memiliki tujuantujuan spesifik meliputi:

Tujuan operasional dasar:

  1. Mengurangi error atau kesalahan yang disebbakan karena insan atau pekerja.
  2. Meningkatkan keselamatan (safety)/K3 (mampu dibilang adalah berita paling utama dan terkenal di ergonomi, sebagian besar software ergonomi dikenal lewat K3. Ergonomi sendiri sebenarnya ialah prinsip dari K3
  3. Memperbaiki performa sistem agar karyawan mencapai kualitas hidup insan secara optimal, baik ditempat kerja, lingkungan sosial maupun lingkungan keluarga menjadi tujuan utama dari penerapan ergonomi.

Baca perihal: 3 TINGKATAN KEPEMIMPINAN, ETIKA KEPEMIMPINAN

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi ialah:

  1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit yang akan terjadi kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
  2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara sempurna guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
  3. Menciptakan keseimbangan rasional antara banyak sekali aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap stasiun kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

Baca: Manfaat ERGONOMI

Untuk mencapai tujuan ergonomi, maka perlu keserasian antara pekerja dan pekerjaannya, sehingga insan pekerjaan dapat bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya. Secara umum kemampuan, kebolehan dan keterbatasan insan ditentukan oleh banyak sekali faktor yaitu umur, jenis kelamin, ras, antropometri, status kesehatan, gizi, kesejukan jasmani, pendidikan, ketrampilan, budaya, tingkah laku, Norma dan kemampuan menyesuaikan diri.

1) Umur. Umur seseorang berbanding eksklusif dengan kapasitas fisik hingga batas tertentu dan mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Pada umur 50-60 tahun kekuatan otot menurun sebesar 25 %, kemampuan sensor motoris menurun sebanyak 60%. Selanjutnya kemampuan kerja fisik seseorang > 60 tahun tinggal mencapai 50% dari umur orang yang berumur 25 tahun. Bertambahnya umur akan diikuti penurunan.

2) Jenis Kelamin. Secara umum wanita hanya mempunyai kekuatan fisik 2/3 dari kemampuan fisik atau kekuatan otot laki-laki tetapi dalam hal tertentu wanita lebih teliti dari laki-laki. Menurut Konz untuk kerja fisik wanita 30% lebih rendah dari laki-laki. Kondisi tersebut menyebabkan persentase lemak tubuh wanita lebih tinggi dari kadar HB lebih rendah daripada laki-laki. Menurut Priatna bahwa seorang wanita  lebih tahan terhadap suhu dingin daripada suhu panas. Hal tersebut disebabkan karena tubuh seorang wanita mempunyai jaringan dengan daya konduksi yang lebih tinggi terhadap panas jika dibandingkan dengan laki-laki.

3) Antropometri. Data antropometri sangat penting dalam menentukan alat dan cara mengoperasikannya. Kesesuaian relasi antara antropometri pekerja dengan alat yang digunakan sangat berpengaruh pada sikap kerja, tingkat kelelahan, kemampuan kerja dan produktivitas kerja. Antropometri juga menentukan dalam selesksi penerimaan tenaga kerja, misalnya orang gemuk tidak cocok untuk pekerjaan di suhu tinggi, pekerjaan yang memerlukan kelincahan, dll. Menurut Pulat data antropometri dapat digunakan untuk mendesain pakaian, kawasan kerja, lingkungan keja, mesin, alat dan sarana kerja serta produk-produk untuk konsumen.

4) Status Kesehatan dan Nutrisi. Status kesehatan dan nutrisi atau keadaan gizi berafiliasi erat satu sama lainnya dan berpengaruh pada produktivitas dan efisiensi kerja. Dalam melakukan pekerjaan tubuh memerlukan energi, apabila kekurangan baik secara kuantitatif maupun kualitatif kapasitas kerja akan terganggu. Perlu keseimbangan antara in take energy dan output yang harus dikeluarkan. Menurut Suma’mur dan Grandjean bahwa selain jumlah kalori yang sempurna, penyebaran persediaan kalori selama bekerja ialah sangat penting. Sebagai contoh ialah pemberian snack atau makanan ringan dan teh manis setiap 1,5-2 jam setelah kerja terbukti dapat meningkatkan produktivitas kerja dibandingkan dengan hanya diberikan sekali makan siang pada ketika jam istirahat.

Baca juga: Ciri Gaya Kepemimpinan

5) Kesejukan Jasmani. Hairy dan Hopkins menyatakan bahwa kesejukan jasmani ialah suatu kesanggupan atau kemampuan dari tubuh insan untuk melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap beban fisik yang dihadapi tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti dan masih memiliki kapasitas cadangan untuk melakukan aktivitas berikutnya. Selanjutnya Nala mengatakan bahwa komponen utama yaitu kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, kelentukan, keseimbangan, kekuatan, koordinasi, ketepatan dan waktu reaksi. Dalam setiap aktivitas pekerjaan maka, setiap tenaga kerja dituntut untuk memiliki kesejukan jasmanai yang baik sehingga tidak merasa cepat lelah dan performansi kerja tetap stabil untuk waktu yang cukup lama.

6) Kemampuan Kerja. Fisik Kemampuan kerja fisik ialah suatu kemampuan fungsional seseorang untuk bisa melakukan perkerjaan tertentu yang memerlukan aktivitas otot pada periode waktu tertentu. Lamanya waktu aktivitas dapat bervariasi antara beberapa detik (untuk pekerjaan yang memerlukan ketahanan). Menurut Hairy dan Genaidy bahwa komponen kemampuan kerja fisik dan kesejukan jasmani seseorang ditentukan oleh kekuatan otot, ketahanan otot dan ketahanan kardiovaskuler.

  • Kekuatan Otot. Kekuatan otot ialah tenaga maksimum yang digunakan oleh suatu group otot dibawah kondisi yang ditetapkan. Kekutan otot biasanya ditentukan setelah beberapa putaran kerja. Terdapat 2 macam kekuatan otot yaitu kekuatan otot statis dan dinamis. Kekuatan otot statis juga dikenal sebagai kontraksi volunter maksimum dan kekuatan isometric yaitu tenaga maksimum yang digunakan untuk suatu group otot setelah percobaan tunggal. Sedangkan kekuatan otot dinamis memerlukan pengerahan selama proses gerakan. Kekuatan otot dinamis ialah beban maksimum yang dapat ditangani oleh seseorang sempurna waktu atau beberapa yang diinginkan.
  • Ketahanan Otot. Ketahanan otot ialah kemampuan spesifik grup otot untuk terus dapat melakukan pekerjaan hingga seseorang tidak bisa lagi untuk mempertahankan pekerjaannya. Ketahaanan otot dapat diukur dalam waktu bertahan (maksimum lamanya waktu selama seseorang  bisa mempertahankan suatu beban kerja secara terus menerus. Daya tahan otot pada prinsipnya dapat dilatih dan dikembangkan semenjak usia dini hingga usia 20 tahun, Daya tahan otot mencapai kemampuan maksimum pada usia 25-30 tahun.
  • Ketahanan Kardiovaskuler. Ketahanan kardiovaskuler ialah suatu pengukuran kemampuan sistem kardiovaskuler dengan melakukan pekerjaan secara terus menerus hingga terjadi kelelahan. Bisa ditentukan dengan beban maksimum dan sub maksimum. Untuk beban maksimum, ketahanan kardiovaskuler diketahui sebagai konsumsi O2 Max (VO2Max) atau tenaga aerobik maksimum. VO2 max ialah jumlah maksimum oksigen yang seseorang dapatkan selama kerja fisik sambil menghirup udara. Menurut Nala bahwa ketahanan kardiovaskuler ialah suatu kemampuan tubuh untuk bekerja dalam waktu lama tanpa kelelahan setelah menyelesaiakan pekerjaan tersebut. Ketahanan kardiovaskuler umumnya diartikan sebagai ketahanan terhadap kelelahan dan kemampuan pemulihan setelah mengalami kelelahan. Ketahanan kardiovaskuler yang tinggi dapat mempertahankan performansi atau penampilan dalam jangka waktu yang relatif lama secara terus menerus.

Baca: Ergonomi ialah | Pengertian Ergonomi

Adiputra, N. 1998, Metodologi Ergonomi, Acara Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.

Grandjean, E. 1993, Fitting the Task to the Man, 4th edt, Taylor & Francis Inc, London.

Nurmianto, Eko. 2008,  Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Teknik Industri-ITS

Pulat, B.M, 1992, Fundamentals of Industrial Ergonomics, Hall International, Englewood Cliffs, New Jersey, USA.

Sinclair, M.A, 1992, Subjective Assessment, Taylor & Francis Great Britain.

Suma’mur, P.K, 1982, Ergonomic Untuk Productivitas Kerja, Yayasan Swabhawa Karya, Jakarta.

Suma’mur, P.K, 1984, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Cetakan ke-4, PT. Gunung Agung, Jakarta.

Baca Juga:  Ilmu Bangunan Gedung ( Konstruksi Bangunan )
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 − 1 =