Total Quality Management (TQM) DAN IMPLEMENTASI TQM || Materi Teknik Industri

  • Share

TQM adalah cara mengelola sebuah organisasi sehingga setiap jabatan dan proses, dilaksanakan dengan benar ketika pertama kali dan pada setiap waktu (first time and every time). TQM adalah tanggung jawab bersama.

Beberapa definisi TQM:

Russell dan Taylor (2000),

TQM ialah kegiatan manajemen mutu organisasi secara keseluruhan pada semua level menejemen dan fungsi yang ada (the management of quality troughout organization at all management levels and across all areas).

Chase, Aquilano, dan Jacobs (2001),

TQM ialah kegiatan menglola organisasi sebagai sebuah keseluruhan sehingga semua dimensi produk dan jasa yang dipandang penting oleh pelanggan menjadi unggul atau istimewa (dealing with the whole agency so that its excels on all dimensions of services and products that are important to the custemer).

Dalam Anggaran Japan Quality Medal,

TQM ialah suatu set aktivitas sistematis yang dilaksanakan oleh keseluruhan organisasi untuk secara efektif dan efisien mencapai tujuan perusahaan sehingga bisa menyediakan produk serta jasa dengan suatu tingkatan mutu yang memuaskan para pelanggan pada waktu dan harga yang sesuai (deming)

TQM berbeda dengan pendekatan tradisional, karena pada pendekatan tradisional mutu produk dipandang sebagai tanggung jawab Departemen Pengendalian Mutu (Quality Control Departmen). Sistem memerlukan pemeriksa mutu yang lebih banyak, standar mutu yang ketat, berbagi tim untuk melakukan tindakan perbaikan, pengerjaan kembali (rework) dan reparasi. Yang kesemuanya itu tidak mecangkup kegiatan peningkatan mutu dan bersifat represif. Pada TQM, tanggung jawab mutu diletakkan pada seluruh pegawai, bersifat agresif dan menggunakan sistem pengawasan melekat, kerusakan ditemukan pada kali pertama sehingga produk memenuhi cita-cita pelanggan serta bebas dari cacat.

Karakteristik-ciri TQM menurut Hutton (2000)

  1. Memfokuskan pada pemuasan kebutuhan pelanggan
  2. Berbagi dan memperdayakan potensi sumber daya insan secara tepat
  3. Melibatkan semua personil organisasi untuk menemmukan cara terbaik dalam melaksanakan peran dan fungsinya
  4. Mengelola proses urusan ekonomi, bukan hanya fungsi atau departemen
  5. Pengelolaan berdasarkan fakta, menggunakan data dan berita yang sahih
  6. Menyerahkan nilai tambah ke masyarakat

Terdapat 3 macam komponen manajerial TQM:

  1. Sistem penjaminan mutu (quality assurance system)
  2. Teknik dan peralatan mutu (quality tools and techniques)
  3. Kerja tim (teamwork)

TQM dapat dipandang sebagai alat untuk mencapai persyaratan mutu yang sama dari para pelanggan sehingga tercapai hal berikut

  1.  Produk yang bersangkutan emmenuhi spesifikasi yang ditentukan
  2.  Produk memberi nilai guna mirip yang diperlukan oleh pelanggan
  3.  Produk memiliki biaya yang lebih kecil dibandingkan dengan manfaatnya
  4. Produk harus senantiasa diperbaiki mutunya sehingga selalu sesuai dengan kebutuhan potensial (latent needs) pelanggan.

Russell dan Taylor (2000) serta Chase, Aquilano, Jacobs (2001) mengemukakan empat belas prinsip Deming yang perlu diaplikasikan untuk memperbaiki mutu produk yang dihasilkan, yaitu

  1.  Tetapkan tujuan inovasi dan perbaikan terus-menerus
  2.  Ambil filosofii baru. Kita tidak dapat mendapatkan kekurangan dan kesalahan lama
  3.  Hentikan ketergantungan pada inspeksi massal. Persyaratan bukti statistik untuk memperbaiki mutu produk dan desain proses
  4.  Pilih beberapa pemasok berdasarkan komitmennya atas mutu, bukan atas harga bersaing
  5. Lakukan perbaikan proses produksi secara berkesinambungan dengan berfokus pada dua sumber utama penyebab persoalan mutu yaitu sistem pekerja sehingga produktivitas meningkat dan biaya akan turun
  6. Lembagakan pelatihan pekerja yang berfokus pada pencegahan pemicu persoalan mutu dan gunakan metode statistik pengendalian mutu
  7. Perbaiki kepemimpinan dari para penyelia (supervisor) untuk membantu para pekerja melakukan pekerjaannya dengan baik
  8. Bangkitkan keterlibatkan pekerja. Usir rasa takut mereka sehingga para pekerja merasa aman untuk mengajukan pertanyaan atau meminta pengidentifikasian mengenai persoalan sekitar mutu.
  9. Hilangkan halangan di antara departemen dan tingkatkan kerja sama berbasis tim di antara pekerja
  10. Hapuskan slogan dan target menarik yang akan mendorong pekerja mencapai volume keluaran yang tinggi tanpa lebih dahulu melihat bagaimana tugasnya dikerjakan dengan baik
  11. Hilangkan kuota numerik yang harus dicapai oleh pekerja dengan biaya tertentu tanpa memperdulikan mutu keluaran
  12. Bangkitkan rasa bangga, keterampilan dan rasa percaya diri pekerja melalui perbaikan supervisi dan proses pengerjaan sehingga bisa mencurahkan seluruh kompetensinya
  13. Lembagakan sebagai acara pendidikan dan latihan mengenai metode perbaikan mutu di seluruh lapisan organisasi, mulai level manajemen puncak hingga dengan level bawahan sehingga berkelanjutan dapat berlangsung
  14. Bangun komitmen dari manajemen puncak untuk mengimplementasikan ke -13 butir di atas

W**g dan Ahmed (2001) mengemukakan konsep mutu yang memakai pendekatan pemebelajaran terhadap mutu dan inovasi yang terdiri atas 3 level:

Single-loop learning

Ialah pembelajaran mengenai mutu dengan titik berat untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan what dan how. Melalui pertanyaan what diketahui cacat apa yang terjadi melalui proses produksi dan berapa banyaknya. Dari pertanyaan how, akan diperoleh data mengenai bagaimana cacat itu dapat terjadi. Perjuangan menemukan cacat, volume ccacat dan dampaknya dilakkukan dengan menggunakan teknik pengendalian mutu. Proses pendeteksian cacat memakai teknik uji mutu mirip Statistical Process Control (SPC) dan Plan-Do-Study-Act (PDSA).

 Double-loop Learning

Yaitu mempertanyakan proses dan sistem yang ada, serta menawarkan perhatian untuk mencegah kerusakan dan mencapai derajat bebs cacat. Tujuannya ialah untuk mewujudkan mutu yang terpadu, capaian mutu sebagai akibat kerja dan tanggung jawab seluruh personil perusahaan

 Triple-loop getting to know

Yaitu melakukan tanya jawab mengenai semua sistem dan teknik yang ada, serta mempertanyakan di mana seharusnya organisasi berdiri di kawasan pemasaran dan bagaimana berinovasi serta berkreasi untuk berhasil di pasar. Sasarannya adalah untuk menghasilkan creative pleasant dan selanjutnya menciptakan fee innovation.

………………………….

Daftar pustaka : Haming, Murdifin dan Nurnajamuddin, Mahfud. 2017.”Manajemen Produksi Modern, Operasi Manufaktur dan Jasa“. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Baca Juga:  Lowongan Kerja PT Jhonlin Group
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × four =