SUMBER DAN PRINSIP KEKUASAAN

Posted on 39 views

Kekuasaan dapat dipandang dari sisi positif dan negatif, tergantung pada sisi mana seseorang melihat kekuasaan tersebut, baik itu manfaat dari kekuasaan itu sendiri dan bahkan dampak buruk dari sebuah kekuasaan. Konsep kekuasaan dalam praktek kepemimpinan adalah bagian dari proses pengaruh. Lee (2002) menyebutkan bahwa kekuasaan dapat menginspirasikan dan mengangkat serta meninggikan, karena kekuasaan dapat digunakan untuk membantu insan mencapai hal-hal yang rupawan. Kekuasaan dapat berdampak negatif, jika kekuasaan tersebut disalahgunakan oleh pemimpin sehingga berdampak buruk bagi orang-orang yang dikuasai.

KEKUASAAN

KEKUASAAN

Kekuasaan diperlukan pemimpin untuk mensukseskan acara dan kebijakan yang hendak ditetapkan akibat dari kesepakatan bersama. Melalui kekuasaan, pemimpin akan menjamin keberhasilan serta keefektivitas pelaksanaan pekerjaannya dan peran kepemimpinannya. Untuk memahami kepemimpinan secara penuh, maka perlu juga memahami kekuasaan (power) dan politik (politic), karena semua pemimpin berurusan dengan kuasa dan politik. Untuk membuat segala sesuatunya dapat tercapai melalui peran kepemimpinan yang efektif tergantung kepada cara seorang pemimpin menggunakan “kekuasaan” untuk menghipnotis perilaku dan tindakan orang lain. Karena, kepemimpinan telah didefinisikan oleh Hersey dan Blanchard (1991) sebagai proses menghipnotis aktivitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.

Baca juga: Definisi Kepemimpinan

Davis dan Newstrom (1991), menyebutkan bahwa kuasa ialah kemampuan menghipnotis orang lain dan peristiwa. Kuasa ialah saham pemimpin dalam perdagangan pengaruh, cara pemimpin meluaskan pengaruhnya kepada orang lain. Kuasa diperoleh pemimpin atas dasar kepribadian, aktivitas, dan situasi kawasan mereka berfungsi. Politik berkaitan dengan cara pemimpin memperoleh dan menggunakan kuasa. Politik diharapkan untuk membantu pemimpin tetap ’berada di atas angin’, dan mengendalikan kejadian ke arah tujuan yang dinginkan.

PENGERTIAN KEKUASAAN

Definisi kekuasaan menurut para ahli:

Robbins (1994), pertanda

kekuasaan sebagai kapasitas seseorang untuk menghipnotis keputusan.

Lee (2002) mengemukakan bahwa

kekuasaan ialah kemampuan kita menghipnotis satu sama lain. Kekuasaan membentuk landasan pemerintahan, sosiologi, psikologi, sejarah, agama, dan banyak disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana insan hidup dan berafiliasi, saling menghipnotis satu sama lain.

Griffin (2004)

mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk menghipnotis perilaku orang lain.

Stoner (1986) menuliskan bahwa

kekuasaan sebagai kemampuan untuk menghipnotis. Mempunyai kekuasaan berarti dapat mengubah perilaku atau sikap orang lain.

Schermerhorn (1997), menyebutkan

kekuasaan ialah kemampuan untuk membuat segala sesuatu terjadi sesuai de ngan kehendak Anda. Kekuasaan ialah kemampuan untuk membuat orang lain mau melakukan sesuatu yang Anda kehen daki.

Wexley dan Yukl (2005), mengartikan

kekuasaan sebagai kapasitas menghipnotis perilaku orang lain.

Jadi pengertian kekuasaan dari seorang pemimpin ialah kemampuan untuk menghipnotis keyakinan dan sikap seseorang, sehingga membuat seseorang tersebut mau melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh pemimpin. Seseorang yang terpilih atau diangkat sebagai pemimpin, secara eksklusif kekuasaan tersebut melekat pada pemimpin tersebut. Dan para bawahan atau pengikutnya, secara tidak sadar akan patuh kepada pemimpinnya.

Baca juga: 3 TINGKATAN KEPEMIMPINAN, ETIKA KEPEMIMPINAN

SUMBER KEKUASAAN

Stoner (1986) menuliskan lima sumber atau dasar kekuasaan yang masing-masing dapat terjadi pada setiap tingkatan, yaitu:

a. Kekuasaan Penghargaan/Imbalan (reward power), terjadi jika seseorang (pemberi pengaruh = influencer) memiliki kemampuan untuk memberi imbalan pada orang lain (yang dipengaruhi = influencee). Dalam hal ini, Griffin (2004) menggunakan istilah kekuasaan balas jasa yang berarti kekuasaan untuk menawarkan atau menunda balas jasa, mirip peningkatan gaji, bonus, rekomendasi promosi, kebanggaan, pengakuan, dan penugasan kerja yang menarik. Wexley dan Yukl (2005), menambahkan bahwa reward power ialah diperoleh dari pengendalian pemimpin atas konsekuensi-konsekuensi positif terhadap bawahan, mirip: kenaikan upah, promosi, lebih banyak tanggung jawab, penugasan yang menyenangkan, kenaikan status, pengakuan formal seta anggaran yang lebih besar. Robbins dan Coulter (2005), menyebutkan kekuasaan pemberian imbalan ialah kekuasaan untuk memberi manfaat atau imbalan positif dalam bentuk apa saja yang dihargai oleh orang lain.

b. Kekuasaan Paksaan (coercive power), yang didasarkan pada kemampuan pemberi pengaruh untuk menghukum penerima pengaruh jika tidak mampu memenuhi permintaan adalah sisi negatif dari kekuasaan imbalan. Sanksi dapat berupa kehilangan beberapa hak tertentu atau bahkan kehilangan pekerjaan. Lee (2002) beranggapan bahwa kekuasaan dengan paksaan menggunakan asumsi pengendalian dan menggunakan rasa takut sebagai alatnya. Jika digunakan kekuasaan dengan paksaan, kita melakukannya bukan untuk menghipnotis orang lain melainkan untuk memaksa mereka agar menurut. Hal tersebut tercapai kepatuhan lewat ancaman, tipu muslihat, atau paksaan fisik, serta apapun yang diharapkan untuk membangkitkan rasa taku dalam diri mereka yang ingin kita kendalikan orang yang memaksa mampu membuat hidup orang lain tidak menyenangkan.

c. Kekuasaan Absah (legitimate power), terjadi jika bawahan atau yang mendapatkan pengaruh mengakui bahwa pemberi pengaruh mempunyai “hak” atau secara sah berhak untuk menawarkan pengaruh, dalam batas-batas tertentu. Menambahkan pendapat dari Griffin (2004), kekuasaan sah ialah kekuasan yang diperoleh melalui hierarki organisasi, atau dengan kata lain kekuasaan sah ialah kekuasaan yang diberikan kepada individu yang memegang jabatan tertentu mirip yang didefinisikan oleh organisasi. Robbins dan Coulter (2005), menyebutkan kekuasaan legitimasi adalah kekuasaan yang dimiliki seseorang sebagai kedudukannya dalam hirarki organisasi formal.

d. Kekuasaaan Pakar (expert power), didasarkan pada pendapat atau kepercayaan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian atau pengetahuan yang relevan yang tidak dimiliki oleh penerima pengaruh. Kekuasaan keahlian biasanya diterapkan pada bidang yang terbatas dan khusus. Atau dengan kata lain, kekuasaan ahli ialah kekuasaan eksklusif yang didapatkan seseorang berbasis berita atau keahlian yang dimilikinya. Menambah pendapat dari Wexley dan Yukl (2005), seorang pemimpin dapat menghipnotis pendapat bawahan kalau ia dipandang bawahan memiliki pengetahuan dan keahlian yang luas.

e. Kekuasaan Surat keterangan (referent power), yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok, didasarkan pada cita-cita penerima pengaruh untuk mengidentifikasilkan dirinya dengan, atau meniru pemberi pengaruh. Kekuatan kekuasaan referensi berafiliasi eksklusif dengan faktor-faktor mirip gengsi dan penghormatan penerima pengaruh kepada pemberi pengaruh. Griffin (2004) mendefiniskan kekuasaan referen ialah kekuasaan eksklusif yang didapatkan seseorang berbasis persamaan, peniruan, kesetiaan, atau karisma. Wexley dan Yukl (2005), menambahkan bahwa referent power didasarkan atas identifikasi dan ketertarikan. Referent power sebagian ditentukan oleh kepribadian pemimpin dan kapasitasnya menawarkan ilham bawahan serta menawarkan harapan-harapan dan nilai-nilai. Serta ditentukan oleh bagaimana pemimpin memperlakukan bawahan.

Baca juga: Pola Pikir dan Pola Sikap

Selanjutnya Hersey dan Blanchard (1991) yang dalam bukunya menambahkan untuk jenis kuasa berita serta kuasa koneksi, dan lebih lanjut akan dijelaskan dalam point berikut ini.

a. Kuasa Berita ialah sumber kuasa yang menghipnotis orang lain karena mereka membutuhkan berita atau ingin tetap memperoleh berita mutakhir. Pemimpin yang memiliki berita dapat dipandang bernilai oleh orang lain.

b. Kuasa Koneksi ialah pemimpin yang tinggi kuasa koneksinya menimbulkan kepatuhan orang lain karena orang-orang itu ingin menerima rasa senang atau ingin menghindari rasa tidak senang dari koneksi yang digdaya. Pemimpin yang memiliki koneksi dengan orang-orang penting, akan berpengaruh di dalam atau di luar organisasi.

Northouse (2013), menuliskan bahwa di dalam organisasi terdapat dua jenis utama kekuasaan, yaitu:

a. Kekuasaan Posisi ialah kekuasaan yang di dapat seseorang dari posisi tertentu atau peringkat di dalam sistem organisasi resmi. Kekuasaan ini adalah kapasitas memengaruhi yang dimiliki seorang pemimpin, karena dia memiliki status yang lebih tinggi daripada yang dimiliki pengikut. Kekuasaan posisi mencakup kekuasaan sah, imbalan, dan memaksa.

b. Kekuasaan Eksklusif ialah kapasitas memengaruhi yang dimiliki pemimpin karena di sukai oleh pengikut dan memiliki pengetahuan. Saat pemimpin bertindak dalam cara yang di anggap penting oleh pengikut, hal itu memberi pemimpin kekuasaan.

Prinsip Kekuasaan

Prinsip Kekuasaan

PRINSIP DASAR KEKUASAAN

Kekuasaan adalah suatu hal yang mendukung atau menyukseskan dalam menjalankan fungsi dan peran kepemimpinan dari seorang pemimpin. Kekuasaan harus digunakan dengan sebaik-baiknya dalam melibatkan, mengarahkan dan memberdayakan orang lain untuk mau bekerja sama dengan pemimpin. Seorang pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan sehingga menawarkan sikap dan perilaku pemimpin yang tidak berkepribadian baik, maka kemungkinan pemimpin tersebut akan menjadi sosok yang tidak akan disenangi dan tidak mendapat kepercayaan yang baik dari para bawahan atau pengikutnya. Lee (2002) menjelaskan bahwa orang-orang terhormat memiliki sepuluh prinsip dasar kekuasaan, yaitu:

a. Persuasi

Dalam hal ini, kita tidak memperlakukan semua orang dengan sama. Orang-orang yang kita hargai merasa beda jika berada bersama kita. Kita berinvestasi dalam diri mereka, kita perhatikan mereka, kita luangkan waktu bersama mereka, kita mendengarkan mereka, dan mengatakan kepada mereka bahwa kita ingin melakukan sesuatu atau ingin mereka melakukan sesuatu. Persuasi dimulai dari cara berpikir. Sedari awal, diasumsikan bahwa kita takkan harus ?Membujuk seseorang? Untuk melakukan sesuatu. Diasumsikan bahwa kita harus memenangkan mereka. Diasumsikan bahwa kita rela membayar harga demi partisipasi mereka dan keterlibatan mereka. Diasumsika bahwa mereka layak kita yakinkan.

B. Kesabaran

Adalah, jika ingin berbagi kehormatan di mata orang-orang di sekeliling kita, maka kita harus bersabar, baik terhadap prosesnya maupun terhadap orangnya.

Baca juga: Jenis dan Keterampilan Kepemimpinan

c. Kelembutan

Kelembutan adalah kita tidak kasar, keras, atau memaksa, terutama saat berurusan dengan bidang-bidang yang sangat peka atau di mana pihak yang satunya sangat rentan. Dengan kelembutan, maka kita akan menghargai dan melayani semua orang.

D. Mau (mampu diajar)

Dengan kekuasaan yang dimiliki, maka harus bersikap rendah hati dan pengakuan di dalam diri sendiri dan terhadap mereka yang akan mengajari Anda. Pemimpin harus berasumsi bahwa dirinya tidak memiliki semua jawaban, wawasan yang luas, keterampilan yang memadai serta berita yang akurat sehingga menimbulkan perbedaan pandangan, penilaian, dan pengalaman dari orang lain. Oleh karena itu, pemimpin harus memiliki pemikiran terbuka untuk mau diajar, ingin belajar dan mendengarkan banyak sekali pengetahuan atau berita yang ada dimiliki oleh orang lain.

E. Sikap mendapatkan

Kekuasaan sikap mendapatkan itu besar karena tidak ada maksudmaksud tersembunyi, dan itu dinamakan sikap mendapatkan tanpa syarat. Dengan adanya sikap mendapatkan, terciptalah pengharapan yang memberi keyakinan positif perihal diri sendiri, keyakinan akan potensi yang dimiliki.

F. Kemurahan

Kemurahan adalah peka, peduli dan penuh pertimbangan. Pemimpin bertindak dengan pertimbangan, kesopanan, tatakrama dan kepedulian yang ikhlas. Yang lain mencicipi kemurahan hati pemimpin karena hal itu mewarnai eksistensi kita dan menjadi landasan dari semua interaksi kita.

G. Sosialisasi

Sosialisasi yang sempurna perihal siapa seseorang itu akan menawarkan dasar pertimbangan menyangkut niatnya, hasratnya, nilai-nilainya, dan impiannya, ketimbang terfokus pada perbuatannya semata-mata. Dengan pengenalan, akan berusaha mendapat berita yang sempurna perihal orang yang ingin Anda pengaruhi. Pemimpin harus meluangkan waktu melalui interaksi sederhana untuk mengenal orang yang ingin Anda pengaruhi.

H. Disiplin

Disiplin adalah kita akui kesalahan-kesalahan yang diperbuat orang lain, dan kita akui kesalahan-kesalahan itu bukannya untuk menghancurkan mereka, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka akan bangkit lagi dengan kuat dan lebih baik daripada sebelumnya. Disiplin yang efektif disini ialah konteks kepedulian sehingga tercipta kekuasaan yang terpusat pada prinsip yang menjadikan kasih, kelembutan, kemurahan dan penerimaan.

I. Konsistensi

Jika ingin memiliki kekuasaan yang muncul saat orang lain menghormati kita, kita harus beruapaya hidup konsistensI. Konsistensi yang dimaksudkan disini ialah konsistensi pikiran dan perbuatan yang berasal dari seperangkat keyakinan dan nilai-nilai yang adalah inti eksistensi kita. Yang lain akan menghormati kita, jika kita perlakukan mereka secara konsisten, adalah kita bersikap dari inti karakter kita, tidak berubah-ubah, tidak bersikap situasional atau berubah-ubah dalam penerimaan kita, kesabaran, kasih dan disiplin kita.

J. Integritas

Integritas adalah berkomitmen untuk mencocokkan perkataan, perasaan, pikiran dan perbuatan agar kita hidup sesuai tanpa duplikasi. Semakin besar integritas, maka semakin besar kekuasaan yang dimiliki. Kita perlihatkan sikap dapat diandalkan yang berakar dari karakter, siapa kita sesungguhnya, serta kompetensi apa yang dapat kita perbuat atau kemungkinan besar kita perbuat.

Baca juga: PSIKOLOGI INDUSTRI, Pengertian, Sejarah, Pendekatan, Kajian, Wilayah Software Psikologi

Daftar pustaka : Tambunan, Toman S. 2015. ?Pemimpin dan Kepemimpinan?. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Baca Juga:  Model Rumah Minimalis

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × 2 =