STRUKTUR BETON BANGUNAN GEDUNG

Posted on 4 views

Bangunan nyaris mampu dikatakan sebagai obyek paling penting di Bumi. Bangunan ialah wadah hidup insan. Kawasan insan beraktifitas, bekerja, membangun rumah tangga dan juga berfungsi untuk kawasan ibadah, pengembangan budaya, rekreasi, hiburan, wisata dan lain sebagainya.  Karenanya dalam membangun sebuah gedung diperlukan pelaksana pembangunan yang dapat menjamin terlaksananya proses pembangunan dengan baik dan menghasilkan output sebuah bangunan yang juga baik.  Tugas pelaksana bangunan ialah memahami gambar, desain dan spesifikasi teknis dan juga metode kerja sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan.  Pada pelaksanaan gedung dengan skala besar atau bangunan gedung dengan tingkat tinggi keberadaaan pelaksana dapat dikelompokkan dalam kelompok keahlian yang lebih rinci mirip kelompok pelaksana besi, kelompok pengecoran, kelompok pemasang bekisting, kelompok finishing, kelompok pelaksana ME dan setiap kelompok mempunyai tanggung jawab masing-masing sesuai keahliannya.

Beton ialah material komposit yang rumit.  Beton dapat dibuat dengan mudah bahkan oleh mereka yang tidak punya pengertian sama sekali perihal teknologi beton.  Tetapi pengertian yang salah dari kemudahan ini acapkali menghasilkan masalah pada produk antara lain reputasi jelek dari beton sebagai material bangunan.

Sebagai material komposit, sifat beton sangat bergantung pada sifat unsur masing-masing serta interaksi antara unsur-unsur itu.  Ada 3 sistem umum yang melibatkan s***n yaitu pasta, mortar dan beton.

1. PEMASANGAN PERANCAH

Perancah ialah struktur yang digunakan untuk membentuk pola material beton. Ada dua macam perancah yaitu perancah besi (terbuat dari pipa atau tabung logam) dan perancah alam yaitu kayu/bambu. Perancah berfungsi sebagai struktur temporer untuk menyangga insan atau material. Perancah juga berfungsi sebagai pendukung/penyangga cetakan beton. Selain itu perancah juga kadang-kadang digunakan sebagai pelindung bagi para pekerja dari jatuhan alat/material.

Landasan perancah (scaffolding) harus disiapkan dalam bentuk dudukan yang rata dan cukup kuat untuk menahan perancah.  Jangan melakukan pemasangan perancah sendirian. Lakukan secara bersama-sama dengan pekerja lainnya dan pemasangannya harus dilakukan menurut urutan agenda da sesuai kode/standar yang relevan dari pabrik.

Perancah (Scaffolding) dalam pekerjaan pengecatan dinding.

Foto olehJuhasz Imre dariPexels

Beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam memasang perancah ialah :

  • Papan perancah harus tahan retak dan tahan pecah
  • Paku harus mempunyai panjang dan diameter yang cukup
  • Jangan menggunakan paku besi yang getas (cast iron)
  • Bahan-bahan yang digunakan harus disimpan dengan baik dan dijauhkan dari material berbahaya yang mampu menghipnotis kekuatannya.
  • Kekuatan perancah harus diperhitungkan sebesar 4 kali beban maksimal.
  • Perhatikan pemasangan tangga pengaman
  • Perancah harus diberi penguat (brace)
  • Semua kerangka kawasan berdirinya perancah bangunan harus berdasarkan standar konstruksi, memiliki pondasi yang cukup kuat dan diberi penguat untuk kestabilan
  • Jangan menggunakan batu bata, pipa yang rusak dan bahan-bahan lain yang tak semestinya dipakai untuk penahan perancah.
  • Paku-paku harus tertanam penuh. Jangan hanya memaku separuh dan kemudian dibengkokkan.
  • Paku tidak boleh mendapatkan gaya tegangan eksklusif.
  • Tali baja yang digunakan untuk perancah tidak boleh terkena bahan kimia atau asam yang memudahkan keadaan korosi (karat).  Jangan menggunakan tali serat untuk menahan perancah dari kayu. Gunakan tali baja.
  • Kalau terpaksa menggunakan perancah kayu maka gunakan kayu yang lurus, padat, tidak ada mata kayu yang besar, kering, tidak busuk, tidak ada lubang ulat dan lain-lain kerusakan yang mampu membahayakan dan meruntuhkan susunan perancah.
  • Perancah yang berdiri sendiri harus berdiri di atas gelagar memanjang dan melintang yang dihubungkan dengan kuat pada tiang penyangga keatas atau kesamping untuk menjaga kestabilan.
  • Setiap bagian perancah harus diperiksa sebelum dipasang.
  • Bentuk dan komposisi perancah harus diperiksa oleh Pakar K3L untuk meyakinkan bahwa perancah berada dalam kondisi stabil, bahan yang dipakai tidak rusak, cukup baik untuk digunakan dan sudah diberi pengaman. Inspeksi ini sedikitnya dilakukan seminggu sekali atau dilakukan sesudah cuaca buruk atau gangguan yang berlangsung lama dalam masa pembangunan.
  • Pada ketika disimpan setiap bagian perancah harus dipelihara dengan baik
  • Perancah tidak boleh sebagian dibuka atau ditinggal terbuka kecuali hal itu tetap menjamin keselamatan. Pastikan perancah yang sudah tidak diperlukan dibuka seluruhnya dan kemudian disimpan dengan perawatan yang baik.
  • Perancah yang berdiri bebas harus dikaitkan ke bangunan dengan sistem penjepit (rigid connections) yang kuat dengan jarak tertentu.
  • Perancah tidak boleh dipasang terlalu tinggi diatas anker tertinggi pada bangunan karena dapat membahayakan kestabilan dan kekuatannya.
  • Periksa bagian-bagian perancah ketika melepas perlengkapan yang digunakan. Tangkal pergeseran dan hubungkan tiang penyangga dengan bagian bangunan yang kuat agar pada ketika melepas bagian-bagian tersebut struktur perancah tidak goyah.
  • Pastikan perancah dipasang oleh ahlinya dan mempunyai wewenang dalam tugas tersebut.
  • Pada project yang berskala besar, setiap tahapan pemasangan perancah harus mengikuti urutan sesuai ketentuan teknis yang telah ditentukan oleh ahlinya. Tahapan atau urutan ini dibuat oleh ahli dan harus didokumentasikan. Tenaga ahli yang dimaksud ialah tenaga ahli yang mempunyai sertifikat perancah atau petugas K3L khusus perancah atau petugas K3L khusus konstruksi.

2. PEMBUATAN DAN PERAKITAN BEKISTING/CETAKAN

Bekisting/cetakan berfungsi sebagai konstruksi bantu yang bersifat sementara yang digunakan untuk mencetak/membuat beton yang akan dicor sesuai dengan ukuran dalam desain.

Kualitas cetakan harus baik. Memiliki kekuatan, kestabilan, tidak mengalami deformasi, kedap air, tahan getaran v******r, memiliki akurasi pada bentuk, ukuran dan posisi dalam struktur gedung yang akan dibangun.

Keselamatan pekerja harus dijamin. Bekisting/cetakan harus didirikan dengan kekuatan yang cukup sehingga mampu menahan beban hidup dan beban mati tanpa mengalami keruntuhan.

Bekisting/cetakan harus praktis. Mudah dibongkar pasang tanpa terganggu ukurannya dan dapat digunakan berkali-kali.

Alat yang digunakan untuk pembuatan bekisting/cetakan ialah palu, obeng, paku/baut/klem besi, cat meni/paselin/stempel (agar cetakan tidak melekat). Sedangkan bahan yang digunakan mampu berupa kayu (papan/tripleks/multipleks), besi atau mampu juga menggunakan fiberglass.

Cara Membuat Cetakan/Bekisting Pengecoran Balok & Pelat Lantai

Tahapan pekerjaannya ialah :

  • periksa kelengkapan shop drawing sebelum membuat bekisting/cetakan balok/lantai. Shop drawing ini harus ada karena sangat jamak terjadi ukuran yang ada dalam gambar desain berubah ketika akan dikerjakan pengecorannya. shop drawing juga diperlukan dalam menawarkan elemen bekisting tertentu yang akan terpasang di bagian tertentu p**a.
  • material panel bekisting/cetakan yang telah difabrikasi diperiksa dan dipasang sesuai kode yang ada dalam shop drawing.
  • material bekisting/cetakan harus dilapisi oli bekas (untuk struktur beton non expose) atau mold oil & form oil (untuk struktur betonexpose).  Untuk bekisting/cetakan bekas harus telah dirawat secara memadai sehingga layak dipakai kembali.
  • jarak scaffolding, jarak horibeam, stood to stood harus sesuai dengan shop drawing.
  • periksa jarak formties dan bracing pada balok yang terlihat cukup tinggi.
  • periksa posisi sparing kebutuhan ME sesuai dengan shop drawing.
  • pastikan ukuran dimensi bekisting/cetakan balok dengan meteran.
  • periksa elevasi pelat lantai dan balok dengan alat ukur.
  • periksa ketegakan sisinya dengsn siku logam.
  • Periksa kelurusan bekisting/cetakan dengan tarikan benang pada balok terutama pada balok tepi, sisi bekisting harus sejajar tarikan benang
  • pada balok dan pelat periksa kerapatan sambungan/pertemuan bekisting lalu tutup dengan sealtape/busa dan sejenisnya.

Cara Membuat Cetakan/Bekisting Pengecoran Struktur Kolom

Tahapan pekerjaannya ialah :

  • pada pekerjaan kolom, pengerjaan bekisting/cetakan dilakukan setelah pekerjaan penulangan selesai.  Papan yang telah dipotong sesuai ukurannya disatukan dengan kayu 5/7 membentuk persegi panjang atau sesuai bentuk yang tertera dalam gambar kerja dengan tetap mengacu pada ukuran yang telah ditentukan.
  • Cetakan ini lalu dijepit dengan sabuk kolom dan dipasang pipa support dengan cara menopang pada sabuk cetakan bekisting di keempat sisinya.
  • pasang batas kolom pada bagian atas bekisting untuk menandai batas stop pengecoran
  • sebelum pengecoran lakukan pengecekan terlebih dahulu baut/skrup yang terpasang dan kerapatan bekisting. Setelah bekisting aman pekerjaan penulangan dapat dimulai.

Cara Membuat Cetakan/Bekisting Pengecoran Struktur Tangga

Tahapan pekerjaannya ialah :

  • Acuan tangga dibentuk sesuai bentuk tangga yang terdapat dalam disain
  • karena tangga berbentuk struktur yang miring, perhatikan dengan baik penyangganya agar bekisting tidak bergerak atau roboh ketika pengecoran.

Model bekisting tangga yang telah selesai di cor

3. PERAKITAN TULANGAN BETON

Ada dua jenis tulangan yaitu tulangan besi polos dan tulangan besi ulir. Besi beton biasanya dipakai yang bermutu U-24. Ukuran dan diameter besi beton terpasang harus sesuai dengan gambar kerja dan Agenda kerja & Syarat-Syarat (RKS).

Cara merakit tulangan ialah dengan menganyam tulangan atas, setelah itu menganyam tulangan bawah dan terakhir kedua anyaman tulangan diikatkan pada tulangan sengkang dengan kawat baja lunak.

Pembesian Pelat Lantai & Tangga :

  • lakukan penganyaman pada tulangan bawah yang saling bersilangan (sumbu x dan sumbu y)
  • persilangan besi diikat kuat dengan kawat baja lunak.
  • setelah penganyaman tulangan bawah selesai lanjutkan dengan penganyaman besi tulangan bagian atas. Pelaksanaannya sama dengan cara penganyaman besi tulangan bagian bawah.
  • pada penulangan pelat diperlukan pengganjal agar tebal selimut beton tercapai. Biasanya pengganjal ini disebar 3 buah per 1 M2 pelat.

Pembesian Balok :

  • pengerjaan dilakukan pada tulangan bawah dahulu kemudian dilanjutkan tulangan atas lalu keduanya diikatkan pada tulangan sengkang dengan kawat baja lunak agar tidak bergeser pada ketika pengecoran.
  • tulangan balok masuk ke dalam kolom pada arah panjang agar tumpuan balok cukup kuat dan diikat kuat pada tulangan kolom dengan kawat baja lunak.

Pembesian Kolom :

  • penganyaman dilakukan dari bawah (di kawasan yang disediakan tersendiri) kemudian ditegakkan dengan tower crane untuk proses penyambungan stek kolom.
  • penyambungan stek kolom dilakukan dengan cara : sengkang pada tulangan beton dimasukkan kedalam stek kolom yang sudah tersedia.
  • pada ketika penyambungan stek kolom dilonggarkan terlebih dahulu dengan menurunkan sengkang yang ada pada stek kolom.
  • tulangan utama pada kolom diikatkan dengan sengkang yang sudah dimasukkan sebelumnya. Pengikatan dilakukan dengan menggunakan kawat baja lunak agar tidak terjadi pergeseran.
  • tulangan sengkang yang tadi dilonggarkan dikencangkan kembali setelah tulangan utama kolom tersambung pada stek kolom.

4. PENGECORAN BALOK, KOLOM, TANGGA DAN PELAT LANTAI BETON

Alat & Bahan

Bagi beton dengan volume besar biasanya digunakan alat concrete pump dan kompresor. Sedangkan bahan dapat dibagi atas :

a. Beton Basah Cara Manual

  • buat kotak takaran untuk perbandingan ukuran material terbuat dari kayu atau mampu juga menggunakan ember.
  • buat wadah/kawasan (kotak spesi) akibat pengecoran yang terbuat dari kayu atau seng pelat dengan ukuran tinggi x lebar x panjang ialah 22 cm x 100 cm x 160 cm atau dapat juga dibuat dari baja dengan ukuran tebal 3 mm.
  • persiapkan bahan-bahan pengecoran mirip s***n, pasir, batu split dan air.
  • buat adukan pasta dengan bantuan mixer mollen dengan perbandingan 1 bagian s***n : 2 bagian pasir : 3 bagian batu split serta air secukupnya.
  • bahan-bahan adukan dimasukkan kedalam tabung mollen dengan urutan pasir, s***n dan kemudian split. Biarkan tercampur kering baru kemudian ditambahkan air secukupnya.
  • Setelah 4 hingga 10 menit adukan akan tercampur tepat. Tuangkan pasta akibat campuran ke dalam kotak spesi.
  • bahan-bahan adukan dimasukkan kedalam tabungmollendengan urutan pasir, s***n dan kemudian split. Biarkan tercampur kering baru kemudian ditambahkan air secukupnya.

b. Beton Basah Cara Pabrikan (Ready mix)

  • beton ialah persenyawaan dari bahan-bahan pencampur (plus zat tambahan kalau diharapkan) karenanya kendali proporsi material beton harus direncanakan dengan baik.
  • menurut SNI 03-2843-2000 secara teoritis perencanaan campuran beton bukan hal mudah. Diharapkan laboratorium untuk menganalisa material yang akan digunakan dan juga diharapkan laboratorium untuk menguji akibat perencanaan campuran beton.
  • sebelum adukan dibuat, terlebih dahulu dibuat benda uji dengan mengacu pada komposisi material beton yang direncanakan.
  • bahan untuk beton readymix yang akan diproses dalam dry mix batching plant ialah agregat kasar, agregat halus, s***n, fly ash (additive) jika diharapkan, air dan bahan admixture.
  • pengambilan dan pengangkutan material untuk agregat kasar dan agregat halus dilakukan dengn wheel loader. Pasir dan kerikil yang berada di kawasan penumpukan material diambil dengan bucket dan diangkut dengan menggunakan wheel loader kemudian dimasukkan kedalam bin.
  • Dalam batching plant masing-masing material ditimbang sesuai jumlah kebutuhan menyesuaikan dengan kapasitas concrete mixer truck. Bahan admixture jugaditambahkan sesuai takaran.  Setelah semua material dimasukkan satu persatu ke dalam concrete mixer truck, air dimasukkan kedalam concrete mixer truck sesuai takaran. Selanjutnya semua material dicampur dalam drum concrete mixer truck.  Faktor yang menentukan akibat adukan yang baik ialah prosedur pengisian, ukuran batch, cara penambahan air, kecepatan mixer dan jumlah putaran.

Sebuah concrete mixer truck dalam pengerjaan jalan dengan konstruksi beton

Photo by Flickr

c. Tulangan Besi

  • ada dua jenis tulangan besi yaitu besi polos dan besi ulir.
  • kedua jenis besi ini berbeda dalam menghasilkan kekuatan beton bertulang. Besi ulir menghasilkan kekuatan yang lebih besar karena daya ikat permukaannya yang bersirip ulir memanjang mencengkeram lebih kuat ke selubung beton dibanding besi polos.
  • kedua jenis besi tulangan (tulangan manapun yang dipilih untuk digunakan) harus selalu diikatkan satu sama lain dengan kawat baja lunak untuk mencegah pergeseran pada ketika pengecoran.

Persyaratan Aplikasi Pengecoran

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pekerjaan pengecoran ini yaitu :

  • kualitas beton yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas bahan-bahan pembuat beton dan perbandingannya.
  • semua pekerjaan konstruksi beton pada bangunan dikerjakan dengan mutu beton >K175. Semua pekerjaan konstruksi beton harus memenuhi syarat-syarat dalam SNI 03-2834-2000.
  • adukan beton harus benar-benar matang dan rata dengan menggunakan ready mix.
  • konstruksi beton dengan mutu K-175 dapat dilakukan dengan cara manual.
  • pengecoran dapat dilakukan setelah cara pemasangan pembesian disetujui oleh direksi pelaksanaan secara tertulis dengan catatan semua bahan, peralatan dan tenaga cukup dan tersedia.

Aplikasi Pengecoran

Aplikasi pengecoran dilakukan setelah dilakukan uji kekentalan (slum test) dan pengambilan benda uji untuk pengujian kuat tekan beton dilakukan. Angka slum test menentukan apakah mutu beton yang disyaratkan mampu dicapai atau tidak.

Semua material yang digunakan mirip air, s***n, agregat kasar, agreat halus dan besi beton dapat diuji laboratorium untuk memastikan kualitasnya.

Cara mengerjakan slump test :

  • buat cetakan berbentuk kerucut dengan diameter atas bagian dalam 10 cm, bagian dalam bawah 20 cm dan tinggi 30 cm
  • siapkan tongkat pemadat dengan diameter 16 cm dan panjang 60 cm dengan ujung bundar terbuat dari baja anti karat
  • siapkan juga pelat besi dengan permukaan rata dan kedap air untuk alas kerucut
  • sediakan sendok s***n dan meteran kecil
  • ambil kerucut, besi penumbuk, pelat besi, lori (gerobak besi), meteran kecil dan sendok aduk dekat dengan truck mixer
  • olesi bagian dalam kerucut dengan minyak lalu masukkan adukan beton kedalam kerucut kira-kira 1/3 bagian lalu tumbuk pelan 25 kali
  • masukkan lagi adukan lapisan kedua kira-kira 2/3 bagian. Sebelum dimasukkan jangan lupa adukan beton tetap diaduk dalam lori agar tidak mengendap. Setelah masuk 2/3 bagian tumbuk lagi 25 kali
  • masukkan adukan beton terakhir hingga penuh dan ratakan permukaannya. Buang sedikit permukaannya agar beton terakhir di lubang kerucut benar-benar rata
  • diamkan selama 30 detik, setelah itu kerucut baja diangkat pelan-pelan
  • letakkan kerucut tadi di sebelah beton dalam keadaan terbalik dan taruh besi penumbuk di depan kerucut atas sampai lewat sedikit dari beton
  • beton akan merosot turun permukaannya. Ukurlah jarak merosot itu dengan meter kecil. Penurunan beton dari kerucut itulah yang disebut slump. Pada umumnya angka slump test tidak boleh melebihi jarak 12.5 Cm.

Model pengujian slump (slump test) di laboratorium

Photo by Helena Paiva

Cara mengerjakan uji kubus :

  • Tes kubus dengan compressive strength test biasanya dilakukan pada umur beton 7 hari, 14 hari dan 28 hari.  Hal ini dilakukan untuk mengetahui mutu beton yang dihasilkan.
  • Uji kuat tekan pada kubus beton ini dilakukan untuk mengetahui apakah kekuatan tekan beton karakteristik yang digunakan telah sesuai dengan persyaratan. Setiap satu truck mixer (5-7 m3 beton) dibuatkan 3 buah benda uji.
  • siapkan cetakan silinder baja berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Ambil adukan beton dari truck mixer yang telah hingga di lokasi proyek dan tempatkan dalam ember.
  • masukkan 1/3 bagian lapisan pertama kedalam cetakan silinder dan tusuk 25 kali dengan tongkat pemadat. Lakukan hal ini tiga lapis sampai cetakan penuh dan massif.
  • ratakan permukaanya dan beri tanda permukaannya. Benda uji dibuat tiga buah yaitu untuk pengujian 7 hari, pengujian 14 hari dan pengujian 28 hari.
  • setelah beton mengeras (kira-kira 24 jam) beton dilepas dari cetakannya, kemudian dirawat dengan direndam dalam air selama 7 hari.
  • setelah itu benda uji dianginkan di kawasan yang teduh sampai sesuai dengan umur pengujian.  Benda uji pertama dibawa menuju pengujian laboratorium setelah berumur 7 hari.  Benda uji kedua dibawa menuju pengujian laboratorium setelah berumur 14 hari dan benda uji selanjutnya dibawa menuju pengujian laboratorium setelah berumur 28 hari untuk diuji menggunakan compression testing machine.
  • pengujian dilakukan sampai benda uji pecah dan mesin dimatikan. Akibat pegujian akan terbaca pada manometer.

Mesin penguji kuat tekan beton

Photo by Xb-70 at English Wikipedia

Pembuatan Beton

Adukan beton yang dicor harus dapat mengisi semua ruang cetakan dengan padat dan dapat membungkus semua baja tulangan.

Sebelum dicor, bekisting disiram dengan air bersih dan sesudahnya disiram dengan pasta s***n (air + s***n) agar siar-siar sambungan papan cetakan mampu rapat.

Pengecoran tidak boleh berhenti hingga mencapai batas pelaksanaan dalam hari yang sama.

Untuk mencegah terbentuknya rongga-rongga kosong dan sarang-sarang kerikil maka adukan beton harus dipadatkan selama pengecoran. Pemadatan dapat dilakukan dengan menusuk-nusuk adukan,  memukul-mukul dinding bekisting dengan palu kayu atau mampu juga dengan menggunakan alat mekanis (v******r).

Kalau menggunakan v******r maka angka slum test harus menyesuaikan. Pada umumnya angka slump test tidak boleh melebihi jarak 12.5 Cm.

Pemadatan dengan cara penumbukan ataupun dengan cara mekanis harus dihentikan kalau pada permukaan adukan beton yang telah dipadatkan kelihatan adanya air.

Apabila dalam pengecoran terdapat buih-buih maka segera buih tersebut harus dihilangkan karena pada ketika pengerasan nanti buih tersebut dapat membentuk lubang-lubang kecil dalam betondan dan dapat menghipnotis mutu beton.

Jarum penggetar v******r harus dimasukkan kedalam adukan dalam posisi vertikal namun dalam keadaan tertentu masih mampu dimasukkan dalam keadaan miring 45 derajat.

Selama proses penggetaran jarum tidak boleh digerakkan horisontal karena dapat menyebabkan pemisahan bahan-bahan pencampur beton.

Selama proses penggetaran, jarum tidak boleh menyentuh baja tulangann atau bagian beton yang sudah mulai mengeras. Kalau tulangan tersentuh maka ikatan antar tulangan dengan beton akan lepas.

Tebal adukan beton yang dipadatkan tidak boleh lebih dari panjang jarum dan pada umumnya tidak lebih dari 50 Cm.

Jarum penggetar harus ditarik keatas apabila permukaan adukan beton disekitar jarum kelihatan ada airnya. Hal ni menawarkan bahwa air s***n mulai memusahkan diri dari bahan pasir dan kerikil.

Pencabutan jarum penggetar jangan terlalu cepat agar rongga-rongga bekas jarum dapat terisi kembali dengan adukan beton.

Perawatan Beton

Selama masa proses pengikatan dan pengerasan beton tidak boleh diganggu dan harus menerima perawatan yang baik agar mutu beton dapat mencapai kualitas maksimal mirip yang diperlukan.

Maksimal setelah 24 jam pengecoran selesai beton harus dilindungi dari pengaruh hujan lebat, pengaliran air, getaran dan lain sebagainya yang dapat mengganggu proses pengikatan beton. Untuk menghindari gangguan ini maka beton baru dapat ditutup dengan papan, seng, kertas sak s***n atau plastik.

Selama 2 minggu setelah dicor beton harus dilindungi terhadap pengaruh sinar matahari secara eksklusif dengan jalan membasahi terus menerus misalnya dengan menutupi beton dengan karung-karung basah pada permukaannnya. Apabila karung mengering maka harus dibasahi lagi dan disirami air. Demikian pekerjaan ini dilakukan berulang-ulang selama 2 minggu.

Pada pelat beton, pembasahan dapat dilakukan dengan menggenangi air.

Pembongkaran Bekisting/Cetakan

Cetakan/acuan/bekisting hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi yang dicor telah mencapai kekuatan yang cukup untuk memikul beban sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang bekerja padanya.

Apabila dalam menentukan ketika pembongkaran tidak dibuat benda uji maka kalau tidak ditentukan lain, bekisting baru mampu dibongkar pada usia beton 3 minggu.

Apabila ada jaminan bahwa setelah bekisting dibongkar beban yang bekerja pada bagian struktur itu tidak akan melampaui 50% dari jumlah beban agenda maka pembongkaran dapat dilakukan pada waktu beton berumur 2 minggu.

Kalau tidak ditentukan lain, bekisting samping dari balok, tiang dan dinding dapat dibongkar pada usia beton 3 hari.

Cetakan balok lantai boleh dibongkar kalau semua bekisting kolom pendukung telah selesai dibongkar, akibat cetakan kolom baik/tidak berongga/tidak terjadi sarang kerikil.

Jika terdapat rongga atau sarang kerikil maka cacat tersebut harus diperbaiki sampai beton menjadi utuh dengan mutu yang tidak berubah.

Ada beberapa kekurangan dalam pengecoran beton secara konvensional yaitu : waktu pelaksanaan yang lama, kurang bersih, kontrol kualitas yang sulit ditingkatkan dan bahan dasar bekisting (kayu/tripleks) yang makin sulit didapat.

Sistem beton pra cetak ialah metode konstruksi yang bisa menjawab kebutuhan di era baru ini.  Sistem ini ialah dengan melakukan pengecoran komponen di kawasan khusus di permukaan tanah (fabrikasi) lalu dibawa ke lokasi (transposrtasi) untuk disusun menjadi satu struktur yang utuh (ereksi).  Keunggulan sistem ini antara lain mutu yang terjamin, produksi yang cepat dan massal, pembangunan (penyusunan bagian-bagian beton) secara cepat, ramah lingkungan dan rapi serta kualitas produk baik.

Subscribe to receive free email updates:

Baca Juga:  Cara perbaikan atau Perawatan komponen hidrolik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × three =