Masjid Al Irsyad Padalarang Karya Ridwan Kamil Terunik di Dunia
Masjid Al Irsyad Padalarang Karya Ridwan Kamil Terunik di Dunia

Ridwan Kamil Eksklusif: Kebanggaan dan Kegembiraan Bandung

Posted on 16 views

Wajah Bandung telah berubah setelah terpilihnya arsitek dan perencana kota Ridwan Kamil sebagai walikota pada 2013. Kang Emil, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa sumber daya manusialah yang akan membuat kota berkembang sebagai pusat kreatif yang muncul. Pengalaman luas Emil dalam pengembangan komunitas kreatif dan arsitektur telah tercermin dengan baik dalam pengembangan ekonomi kreatif kota. Di bawah walikota, Bandung telah berkembang pesat sebagai bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO; menambahkan hampir 600 bangunan cagar budaya untuk dilestarikan; dan membuka berbagai tempat umum, dari taman tematik hingga perpustakaan hingga hutan kota. Emil juga giat memperjuangkan partisipasi rakyat dalam merancang kotamadya.

Bagaimana latar belakang arsitektur Anda memengaruhi pengambilan keputusan Anda sebagai walikota?

Ada dua bentuk perkembangan: fisik dan ghaib. Secara fisik terlihat dan dapat dilihat oleh masyarakat, seperti kebersihan, kemajuan infrastruktur, jalan, jembatan, hiruk pikuk kehidupan jalanan, dan ruang publik yang aktif. Yang tidak terlihat adalah berupa reformasi birokrasi dan pelayanan. Latar belakang arsitektur saya mempengaruhi bagaimana kota harus dibangun. Saya telah mengunjungi lebih dari 100 kota di dunia. Saya menggunakan pengalaman saya sebagai referensi untuk apa yang harus diterapkan di Bandung. Strategi pertama adalah merancang kebijakan yang akan mengubah Bandung secara positif. Misalnya, kebijakan “Green Building” hanya memberikan izin kepada mereka yang ingin membangun gedung secara berkelanjutan. Kami juga memiliki Departemen Desain – satu-satunya di Indonesia – yang bertujuan untuk mengkategorikan bangunan yang memiliki desain bagus. Terakhir, saya meminta partisipasi masyarakat dalam mendesain kota. Misalnya, forum arsitek merancang trotoar kami, forum seniman berpartisipasi dalam merancang landmark dan patung, dan forum perencanaan kota membantu perencanaan kota. Di sisi lain, saya selalu aktif mengawasi dan meninjau proyek-proyek pemerintah untuk memaksimalkan kualitas desain mereka. Misalnya, untuk taman kota, saya mengawasinya secara langsung.

Apa urgensi di balik penciptaan Bandung sebagai “emerging creative city”?

Bandung tidak memiliki industri atau lahan pertanian untuk digarap. Yang kami miliki adalah modal manusia. Masuk akal untuk mengkategorikan ekonomi sebagai ekonomi pengetahuan, ekonomi kreatif, ekonomi berbasis hobi dan ekonomi berbasis inovasi. Fakta bahwa 60 persen penduduk Bandung adalah anak muda di bawah 40 tahun telah mendorong ekonomi kreatif dan ekonomi berbasis ide dan teknologi untuk berkembang.

Menurut Anda apa yang berubah dalam komunitas desain di Bandung setelah Anda meluncurkan tempat-tempat umum dengan sikap yang berpikiran desain?

Baca Juga:  Arsitektur Rumah Gaya Tropis

Ruang untuk berinteraksi berkembang. Sebelumnya, orang berinteraksi secara online, melalui Facebook misalnya. Saat ini, forum arsitektur diperbolehkan untuk mendesain trotoar dan area publik. Lebih dari itu, setiap kelurahan memiliki penasihat arsitek untuk membantu merancang dan memberikan saran terkait desain langsung kepada kepala desa.

Apakah Anda setuju bahwa kekuatan Bandung adalah orang, tempat, dan idenya?

Saya setuju. Pertama, kota perlu nyaman dan hal-hal baru harus terus bermunculan. Kedua, ada semangat pada orang-orang di kota. Masyarakat Bandung sangat proaktif dalam memberikan ide dan mereka sangat terpacu untuk berpartisipasi. Selama masa jabatan saya, lebih dari 10 badan penasihat walikota dibentuk, didedikasikan untuk menyalurkan partisipasi rakyat secara langsung kepada pemerintah. Misalnya, ada Smart City Council untuk orang-orang tech-savvy, membangun tim ahli untuk engineer, tim pelestarian budaya, dll. Artinya, inisiatif tidak harus datang dari dewan kota, tapi bisa dari masyarakat. Kota yang berkembang adalah kota yang selalu beradaptasi dengan waktu.

Apa visi Anda untuk Bandung di tahun 2045, ketika Indonesia akan merayakan seratus tahun?
Pada 2045, pilihannya hanya dua: dimasukkan sebagai negara maju atau tidak. Untuk mencapai itu, kita perlu mempertimbangkan tiga hal: memiliki ekonomi dengan pertumbuhan tidak kurang dari 5 persen, tidak mengalami krisis sosial dan politik saat menjalankan demokrasi dan memiliki generasi muda yang kompetitif sebagai bonus demografi. Antara sekarang dan 2045, kita sudah memiliki keuntungan dari demografis muda. Jika kita tidak mengolahnya, kita akan menjadi bangsa yang konsumtif, bukan bangsa yang produktif. Contoh sukses adalah Jepang dan Korea. Anda melihat produk Jepang dan Korea di negara mereka. Indonesia dapat mencapainya selama kita memfokuskan diri pada gagasan untuk menjadi bangsa yang inovatif dan produktif.

Apa tiga hal terpenting yang telah Anda bangun untuk Bandung?

Ruang publik seperti trotoar, jalur pejalan kaki layang Teras Cihampelas, revitalisasi ruang publik seperti Teras Cikapundung, dan taman tematik, seperti taman sejarah, Taman Sejarah, dan taman film, Taman Film. Perusahaan-perusahaan ini menjadi tren dan menarik kota-kota lain di Indonesia untuk mengikuti langkah kami.

Sebagai walikota dan arsitek, siapa idola Anda?

Idola walikota saya adalah Enrique Penalosa Londono. Dia adalah walikota Bogota dari tahun 1998 hingga 2001 pada masa yang memunculkan transportasi umum dan budaya berjalan kaki. Arsitek favorit saya adalah Zaha Hadid, tetapi untuk arsitek Indonesia saya menyukai Andra Matin dan Adi Purnomo. Lapisan perak dari desain mereka terlihat jelas. Mereka selalu mempertanyakan konvensionalitas versus ide-ide inovatif baru, artinya arsitektur bukan hanya masalah bentuk, tetapi juga pertanyaan. Bentuk-bentuk hasil kreasi mereka tidak terduga karena mereka selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan zamannya.

Baca Juga:  Sebuah Kisah Tentang Identitas Desain Arsitektur Indonesia

Bagian kota mana yang membutuhkan pekerjaan?

Transportasi publik perlu dikembangkan secara intensif. Tanpa itu, kami tidak dapat mengoptimalkan produktivitas kami. Ini yang paling menantang, mahal dan cukup rumit. Tapi saya seorang yang optimis. Banyak masalah? Mari temukan solusinya.

Bandung merupakan salah satu dari 116 kota kreatif dalam Jaringan Kota Kreatif UNESCO. Bagaimana kabarmu?

Kami selalu berusaha untuk memastikan bahwa Bandung menciptakan karya-karya inovatif yang memiliki dampak global, betapapun kecilnya. Misalnya, Bima Microlibrary memenangkan Architizer A Awards 2017, baik melalui voting publik maupun juri. Anggarannya kecil, sekitar 500 juta rupiah, tapi idenya besar. Orang-orang antusias mengunjungi perpustakaan, baik untuk belajar, membaca, maupun berinteraksi.

Bagaimana Anda menyelaraskan pelestarian bangunan cagar budaya dengan perkembangan saat ini?

Ini merupakan masalah penting. Sebuah kota perlu melestarikan karakter sejarahnya. Tujuannya agar kita bisa menghubungkan diri kita dengan masa lalu. Kota tanpa nilai sejarah sama saja dengan orang yang hilang ingatan. Di Bandung, ada tiga hal yang sudah saya lakukan selama ini. Pertama, setiap bangunan baru harus memiliki gaya art deco, yang dikontekstualisasikan dengan lingkungannya. Kami mengizinkan orang untuk membuat bangunan modern seperti di Jl. Sudirman atau Thamrin di Jakarta, tetapi perlu di luar zona kota lama. Kami juga mengubah pencahayaan di seluruh kota dengan yang klasik. Saya juga menambahkan lebih banyak bangunan untuk dilindungi, dari 99 bangunan menjadi hampir 600 bangunan, misalnya Gedung Sate dan Museum Bandung yang sedang dibangun. Semua ini mencerminkan ketatnya peraturan kami tentang konstruksi dan pelestarian, untuk menjaga bangunan lama dan menyelaraskan perkembangan baru dengan masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 3 =