Pengukuran Kebisingan (Sound Level Meter) & Pencahayaan (Lux Meter) | Praktikum Ergonomi

Posted on 65 views

Definisi Lingkungan Kerja Fisik

Menurut Sedarmayanti (2001:21), suatu kondisi lingkungan yang baik tidak mampu diperoleh begitu saja, tetapi dengan ilmu pengetahuan dan melalui tahapan-tahapan pengujian atas setiap kondisi yang mungkin. Lingkungan kerja fisik ialah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar daerah kerja yang dapat menghipnotis karyawan baik secara eksklusif maupun secara tidak eksklusif. Lingkungan kerja non fisik ialah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan relasi kerja, baik relasi dengan atasan maupun relasi sesama rekan kerja, ataupun relasi dengan bawahan. Lingkungan kerja fisik dapat terbagi atas:

Baca: BIOMEKANIKA KERJA, PRAKTIKUM ERGONOMI

1.Lingkungan yang eksklusif berafiliasi dengan karyawan (Mirip: sentra kerja, kursi, meja dan sebagainya).

2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja yang menghipnotis kondisi insan, misalnya temperatur, kelembaban, aliran udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau tidak sedap, warna, dan lain-lain.

Berikut ini beberapa faktor yang diuraikan Sedarmayanti (2001:21) yang dapat menghipnotis terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja dikaitkan dengan kemampuan karyawan, diantaranya ialah sebagai berikut ini, antara lain:

1. Aliran udara di daerah kerja.

Oksigen adalah gas yang diperlukan oleh mahluk hidup untuk menjaga kelangsungan hidup, yaitu untuk proses metabolisme. Rasa sejuk dan segar selama bekerja akan membantu mempercepat pemulihan tubuh yang akan terjadi lelah setelah bekerja.

2. Temperatur atau suhu udara di daerah kerja.

Dalam keadaan regular tiap anggota tubuh insan mempunyai suhu yang berbedabeda. Produktivitas insan akan mencapi tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar 24-27?C.

Baca: Ergonomi ialah

3. Musik di daerah kerja.

Menurut para pakar, musik yang nadanya lembut sesuai dengan suasana, waktu dan daerah dapat membangkitkan dan merangsang karyawan untuk bekerja. Oleh karena itu lagu-lagu perlu dipilih dengan selektif untuk dikumandangkan di daerah kerja. Nir sesuainya musik yang diperdengarkan di daerah kerja akan mengganggu konsentrasi kerja.

4. Dekorasi di daerah kerja.

Dekorasi ada hubungannya dengan tata warna yang baik, karena itu dekorasi tidak hanya berkaitan dengan akibat ruang kerja saja iclap berkaitan juga dengan cara mengatur tata letak, tata wama, perlengkapan, dan lainnya untuk bekerja

5. Penerangan atau cahaya di daerah kerja.

Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi karya’van guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja Cahaya dapat dibedakan menjadi empat, yaitu cahaya eksklusif, cahaya setengah eksklusif, cahaya tidak eksklusif. dan cahaya setengah tidak eksklusif. Adapun ciri-ciri penerangan yang baik menurut Sofyan Assaun (1993:31) ialah sebagai berikut:

a.       Sinar cahaya yang cukup

b.      Sinannya yang tidak berkilau dan menyilauhan.

c.       Nir terdapat kontras yang tajam.

d.      Cahaya yang jelas.

e.       Distribusi cahaya yang merata.

f.       Rona yang sesuai.

Baca: Tujuan Ergonomi

6. Getaran mekanis di daerah kerja.

Getaran mekanis pada umumnya sangat menggangu tubuh karena ketidak teraturannya, baik tidak teratur dalam intensitas maupun trekuensinya. Gangguan terbesar terhadap suatu alat dalam tubuh terdapat apabila frekuensi alam ini beresonansi dengan frekuensi dari getaran mekanis. Secara umum getaran mekanis dapat mengganggu tubuh dalam hal sebagai berikut:

a.       Kesentrasi bekerja.

b.      Datangnya kelelahan.

c.  Tim bulnya beberapa penyakit, diantaranya karena gangguan terhadap mata, syarat, aliran darah, otot, tulang, dan lain-lain.

7. Bau tidak sedap ditempat kerja

Adanya bau-bauan di sekitar daerah kerja dapat dianggap sebagai pencemaran, karena dapat menganggu konsentrasi bekerja, dan bau-bauan yang terjadi terus menerus dapat menghipnotis kepekaan penciuman. Pemakaian ?Air condition” yang sempurna adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan bau-bauan yang menganggu di sekitar daerah kerja.

8. Tata warna di daerah kerja.

Menata warna di daerah kerja perlu dipelajari dan direncanakan dengan sebaik-baiknya. Pada kenyataannya tata warna tidak dapat dipisahkan dengan penataan dekorasi. Hal ini dapat dimaklumi karena warna mempunyai pengaruh besar terhadap perasaan. Sifat dan pengaruh warna kadang-kadang menimbulkan rasa senang, duka, dan lain-lain, karena dalam sifat warna dapat merangsang perasaan insan. Komposisi warna yang ideal menurut Alex S Nitisemito (1996:1120), terdiri dari:

a. Rona primer (merah, biru, kuning). Jika dijajarkan tanpa antara akan tampak keras dan tidak harmonis serta tidak mampu dijajarkan dengan yang lain schingga tidak sedap dipandang.

b. Rona sekunder (oranye, hijau, violet). Jika dijajarkan akan menimbulkan kesan yang harmonis, sedap dipandang mata.

c.  Rona-warna primer kalau dijajarkan dengan warna dihadapannya akan menimbulkan warna-warna komplementer yang sifatnya kontras dan baik sekali dipandang mata.

d.   Rona-warna primer kalau dijajarkan dengan warna sekunder yang disampingnya akan merusak salah satu dari warna tersebut dan akan terkesan suram.

    9. Keamanan di daerah kerja.

Guna meniaga daerah dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadadil ansian maka perlu diperhatikan adanya keberadaannya. Salah satu upaya untuk menjaga keamanan di daerah kerja, dapat memanfaatkan tenaga Satuan Petugas Keamanan (SAIPAM).

Baca: ANTHROPOMETRI DAN PERALATAN, Ergonomi

Pengukuran Taraf Kebisingan

Pengukuran Baku Batas Taraf Kebisingan & Zona Kebisingan menjadi suatu hal sangat penting dilakukan di lingkungan kerja dan proses industri kalau dikaitkan dengan masa ah kesehatan. Setiap hari minimal 8 jam kita berada di lingkungan kerja yang menuntut kita untuk menyesuaikan diri dalam kondisi anapun. Kondisi lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan yang tinggi kalau berlangsung dalam jangka waktu lama dan terus menerus maka dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi kesehatan orang orang yang berada di lingkungan tersebut. Untuk meminimalisir dan pencegahan hal tersebut, maka dalam setiap lingkungan kerja terutaina yang berafiliasi dengan proses industri diharuskan melakukan pengukuran tingkat kebisingan bunyi yang dihasilkan dari proses industrinya untuk menjaga kesehatan orang orang yang berada dilingkungan tersebut. Sound Level Meter merupalan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar bunyi bising menghipnotis pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Alat ini digunakan untuk mengukur intensitas kebisingan antara 30-130 dBA dan dari frekuensi 20Hz-20.000Hz. Spesifikasi dari Sound Level Meter ialah sebagai berikut:

Baca Juga:  Daftar Blog Teknik Sipil Terbaik Indonesia

a.       Pengukuran berkisar dari 26dB (A).

b.      Fungsi sampai 99 catatan dan berat 260 g.

c.       6 rentang pengukuran yang diadaptasi.

d.      Dimensi 264 x 68 x 27 mm.

Sound Level Meter digunakan untuk untuk mengukur kebisingan antara 30-130 dB dalam satuan dBA dari frekuensi antara 20-20.000 Hz. Software Sound Level Meter biasanya dipakai dipabrik, untuk menganalisi kebisingan peralatan dipabrik tersebut misalnya pada pabrik pupuk, alat yang berpotensi menimbulkan kebisingan mirip turbin, compressor, condenser, pompa drum dan lain-lain. Pada umumnya SLM & Noise Dosiinzter diarahkan ke sumber bunyi, setinggi indera pendengaran, agar dapat menangkap kebisingan yang tercipta. Untuk keperluan mengukur kebisingan di suatu ruangan kerja, pencatatan dilaksanakan satu shift kerja penuh dengan beberapa kali pencatatan dari SLM. Cara pemakaiannya ialah sebagai berikut:

1.      Persiapan alat

a.       Pasang baterai pada tempatnya.

b.      Tekan tombol power.

c.       Cek garis tanda pada monitor untuk mengetahui kondisi baterai.

d.      Kalibrasi alat dengan kalibrator, sehingga alat pada monitor sesuai dengan angka kalibrator.

2.      Pengukuran

a.       Pilih selektor pada posisi:

1)     Fast digunakan untuk jenis kebisingan kontinu. Bising dimana fluktuasi dari intensitasnya tidak lebih dari 6 dB dan tidak putus-putus. Bising kontinu dibagi menjasi dua yaitu:

a)  Wide Spectrum adalah bising dengan spectrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif tetap dalam batas kurang dari 5 dB untuk periode 0.5 detik berturut-turut, mirip bunyi kipas angin, bunyi mesin tenun.

b)    Narrow Spectrum adalah bising yang relative tetap akan tetapi hanya mempunyai fekuensi tertentu saja (frekuensi 500, 1000, 4000) misalnya gergaji şirkuler, katup gas.

2)   Slow digunakan untuk jenis kebisingan impulsif atau terputus-putus. Bising ini acapkali disebut juga internitten noise, yaitu bising yang berlangsung secara tidak terus terusan, melainkan ada periode rekatif damai misalnya lalu lintas, kendaraan, kapal terbang, kereta api.

3.      Pilih selektor range intensitas kebisingan.

4.      Tentukan lokasi pengukuran. Setiap lokasi pengukuran dilakukan pengamatan selama 1-2 menit dengan kurang lebih 6 kali pembacaan. Akibat pengukuran ialah angka yang ditunjukkan pada monitor.

5.      Catat akibat pengukuran dan hitung rata-rata kebisingan (Lek) dengan rumus:

Lek = 10 log (1/n x (10L1/10 + 10L2/10 + 10L3/10 + …)) dBA

Dimana:

Lek            = tingkat kebisingan ekivalen (dBA).

LI… Ln      = tingkat kebisingan pada periode ke-n (Db).

n                = jumlah data pengukuran.

Berdasarkan keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP/51/MEN/1999 zona kebisingan dibedakan atas tiga bagian, yaitu:

a.       Zona aman tanpa pelindung                    :<85 dBA

b.      Zona dengan pelindung ear plug             : 85-95 dBA

c.       Zona dengan pelindung ear m**f            : >95 dBA

Pengukuran Taraf Pencahayaan

Untuk menerima pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diharapkan sistem pencahayaan yang sempurna sesuai dengan kebutuhannya. Sistem pencahayaan di ruangan, termasuk di daerah kerja dapat dibedakan menjadi lima (5) macam, yaitu:

1. Pencahayaan Semi Eksklusif (semi direct lighting)

Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan eksklusif pada benda yang perlu diterangi, sedangkan sisanya dipaniulkan ke langit-langit dan dinding. Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan eksklusif dapat dikurangi. Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki effiesiean pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putih effisien pemantulan antara 5-90%.

2. Sistem Pencahayaan Eksklusif (direct lighting)

Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan secara eksklusif ke benda yang perlu diterangi. Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan.

Akan tetapi, ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesila yang mengganggu, baik karena penyinaran eksklusif maupun karena pantulan cah Untuk etek vang opumal, disarankan langi-langit, dinding serta benda yang ada didal ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan

3. Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting)

Pada sistem ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada benda yang perlu disinar sedangka sisanya dipantulka ke langit-langit dan dindng. Dalam pencahayaan sistem in tennasuk sister direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistemi ini persoalan bayangan dan kesilauan masih ditemui.

4. Sistem Pencahayaan Semi Nir Eksklusif (semi indirect lighting)

Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk akibat yang optimal disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik. Pada sistem bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.

5.  Sistem Pencahayaan Nir Eksklusif (indirect lighting)

Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik Laba sistem ini ialah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi eflisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja.

Setiap ruang pada bangunan rumah, kantor, apartement, gudang, pabrik, dan lainnya absolut menibutuhkan penerangan. Intensitas penerangan inerupakan aspek penting di tempat-tempat tersebut karena banyak sekali persoalan akan timbul saat kualitas intensitas penerangan di daerah tersebut tidak memenuhi standard yang perlu diterapkan. Perencanaan penerangan suatu daerah harus mempertimbangkan beberapa faktor antara lain intensitas penerangan ketika digunakan untuk bekerja, intensitas penerangan ruang pada umumnya, biaya instalasi, biaya pemakaian energi dan biaya perneliharaannya. Perlu diperhatikan, perbedaan intensitas penerangan yang terlalu besar antara bidang kerja dan sekitarnya harus dihindari karena mata kita akan memerlukan daya yang besar untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut yang menyebabkan mata mudah lelah. Untuk menerima akibat penerangan atau pencahayaan yang baik dan merata, maka harus dipertimbangkan iluminasi (kuat penerangan), sudut penyinaran lampu, jenis dan jarak penempatan lampu yang diharapkan sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. Pada dasamya dalam perhitungan jumlah titik lampu pada suatu ruang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dimensi ruang, kegunaan atau fungsi ruang, warna dinding, type armature yang akan digunakan, dan sebagainya. Berikut ini ialah daya Pencahayaan Maksimum Menurut SNI, antara lain:

Baca Juga:  Campuran Aspal dan Agregat

1.      Untuk Ruang Kantor/ Industri ialah 15 wait/m2

2.      Untuk Rumah tak melebihi 10 watt/m2

3.      Untuk Toko 20-40 watt/2

4.      Untuk Hotel 10-30 watt/2

5.      Untuk Sekolah 15-30 watt/m2

6.      Untuk Rumah sakit 10-30 watt/m2

Terdapat dua aspek penting dari perencanaan penerangan, pertama yaitu menentukan jumlah armature yang diperlukan berdasarkan nilai intensitas yang diberikan, sedangkan yang kedua ialah rekomendasi pemasangan berdasarkan bentuk ruangan. Untuk menerima jumlah lampu pada suatu ruang dapat dihitung dengan metode faktor utilisasi ruangan, rumusnya ialah sebagai berikut:

Dimana:

Rumus tingkat pencahayaan

Rumus tingkat pencahayaan

N                     = Jumlah armature/lampu

1.25                 = Faktor Perencanaan

€               = Intensitas Penerangan (Lux)

L                      = Panjang Ruang (meter)

W                    = Lebar Ruang (meter)

K                     = Faktor ruangan (meter)

Փ                     = Flux Cahaya (Lumen)

ƞ LB                = Efisiensi armature ( % )

Ƞ R                  = Faktor Utilisasi Ruangan ( % )

Intensitas penerangan € dapat diketahui dengan menggunakan rumus:

itensitas penerangan

itensitas penerangan

Dimana:

€          = Intensitas penerangan (Lux)

n          = Jumlah data pengukuran

EL.En  = Kuat penerangan pada setiap pengukuran ke-n (Lux)

Flux cahaya mampu diketahui melalui rumus berikut:

Ø = W x L/w

Dimana:

Ø = Flux Cahaya (Lumen)

W = Daya Lampu (Watt)

L/w = Luminous Efficacy Lamp (Lumen/watt)

Beberapa data tersebut di atas dapat dilihat pada catalog (kardus) lampu.

Faktor ruangan (k) dapat diketahui dari data dimensi ruangan, rumusnya sebagai berikut:

faktor ruangan

faktor ruangan

Dimana:

A = lebar ruangan (meter)

B = panjang ruangan (meter)

h = ketinggian ruangan (meter)

Ketinggian ruangan dihitung dengan menggunakan rumus:

h = H 0.85 (meter)

Dimana:

H = ketinggian (meter)

0,85 = koefisien ketinggian

Baca: MANFAAT PENERAPAN ERGONOMI

Latihan soal

ALAT DAN BAHAN

Dalam melakukan praktikum perihal lingkungan kerja fisik, digunakan alat dan bah. sebagai berikut ini, yaitu:

1.    Sound Level Meter.

2.    Lux Meter.

3.    Ruangan Kerja.

4.    Stopwatch

5.    Perlengkapan Alat Tulis.

6.    Lembar Data.

7.    Lembar Kerja.

PROSEDUR

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan pengamatan tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan dalam lingkungan kerja fisik, yaitu:

1.      Carilah suatu ruangan yang akan dijadikan model pengukuran.

2.      Ambillah sound level meter untuk mengukur tingkat kebisingan ruangan tersebut.

3.      Ambillah lux meter untuk mengukur tingkat pencahayaan ruangan tersebut.

4.      Lihat angka yang terlihat pada alat sound lever meter dan lux meter setiap 30 detik.

5.      Lakukan penglihatan angka tersebut sebanyak 10 kali dan gunakan stopwatch untuk melihat waktu.

6.      Catatlah angka yang terlihat dimonitor sesuai dengan waktu yang ditentukan dari alat lux meter dan sound level meter dengan menggunakan perlengkapan alat tulis di le:nbar data.

7.      Hitunglah jumlah lampu yang diperlukan pada ruangan tersebut kalau diketahui factor utilisasi sebesar 80% dan efisiensi annature lampu sebesar 70%?

8.      Hitunglah rata-rata kebisingan (Lek) pada ruangan tersebut

DATA

PENGUKURAN KE

Kebisingan (Db)

Cahaya (Lux)

1

91

46

2

109

41

3

98

155

4

78

713

5

115

35

6

109

27

7

85

20

8

118

63

9

112

34

10

89

335

JAWAB

1. JUMLAH LAMPU YANG DIBUTUHKAN

Rumus :

Diketahui:

ƞ LB (Efisiensi armature ( % ))                       = 0.7

Ƞ R   (Faktor Utilisasi Ruangan ( % ))            = 0.8

H (ketinggian (meter))                                     = 3 m

A (lebar ruangan (meter))                                = 3.5 m

B (panjang ruangan (meter))                            = 12 m

Lampu                                                              = 15 watt

1 watt                                                                = 75 Lumen

Perhitungan:

Intensitas Penerangan

Flux cahaya mampu diketahui melalui rumus berikut:

Ø = W x L/w

               = 15 x 75 = 1125 Lumen

Ketinggian ruangan dihitung dengan menggunakan rumus:

h            = H 0.85 (meter)

               = 3- 0.85 meter =2.15

Faktor ruangan (k) dapat diketahui dari data dimensi ruangan, rumusnya sebagai berikut:

Untuk menerima jumlah lampu pada suatu ruang dapat dihitung dengan metode faktor utilisasi ruangan, rumusnya ialah sebagai berikut:

KESIMPULAN :

Berdasarkan perhitungan tersebut, pada ruangan tersebut diharapkan 9.71 titik lampu dibulatkan menjadi 10 buah lampu.

Disarankan dibagi menjadi 2 baris, tiap barisnya terdiri dari 5 titik lampu untuk dimensi ruangan tersebut.

RATA-RATA KEBISINGAN

Rata-rata kebisingan (Lek) dengan rumus:

Lek = 10 log (1/n x (10^L1/10 + 10^L2/10 + 10^L3/10 + …)) dBA

Dimana:

Lek           = tingkat kebisingan ekivalen (dBA).

LI… Ln    = tingkat kebisingan pada periode ke-n (Db).

n               = jumlah data pengukuran

Lek = 10 log (1/n x (10^L1/10 + 10^L2/10 + 10^L3/10 + …)) dBA

= 10 log (1/10 x (10^91/10 + 10^109/10 + 10^98/10 + …+ 10^89/10))

(berdasarkan data pengukuran diatas)

= 111.049 dBA

KESIMPULAN :

Berdasarkan perhitungan rata-rata kebisingan di ruangan tersebut, kebisingan mencapai 111 dBA atau > 95 dBA, yang adalah termasuk dalam zona dengan pelindung ear m**f.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × five =