Penerapan K3 dalam Pembangunan Gedung Bertingkat

  • Share

Pembangunan Gedung bertingkat mempunyai tingkat kesulitan dan resiko yang cukup tinggi. Maka dari itu secara khusus, pada artikel ruang sipil ini, kita berbicara perihal pengaplikasian K3 di proyek pembangunan gedung.

Simak hingga habis ya.

Bangunan Gedung

Pengertian bangunan gedung menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Generik No. 26 (2008) ialah wujud fisik akibat pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan kawasan kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai kawasan insan melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau kawasan tinggal, kegiatan sosial, budaya, kegiatan perjuangan, kegiatan keagamaan, maupun kegiatan khusus.

K3 dalam Pembangunan Gedung Bertingkat

Gedung juga perlu K3. (sumber: stressed out.Com)

Bagian Bangunan Gedung

Bangunan gedung memiliki beberapa bagian, diantaranya ialah :

1. Fondasi

Fondasi acapkali disebut struktur bangunan bagian bawah (sub structure) yang terletak paling bawah dari bangunan yang berfungsi mendukung seluruh beban bangunan dan meneruskan ke tanah dibawahnya. Mengingat letaknya yang didalam tanah tertutup oleh lapisan diatasnya, maka fondasi harus dibuat aman,awet,kuat, stabil, dan bisa mendukung beban bangunan.

2. Rangka Bangunan

Rangka bangunan ialah bagian dari bangunan yang adalah struktur utama pendukung berat bangunan dan beban luar yang bekerja padanya.Struktur ini berupa kerangka yang terdiri dari kolom dan balok yang adalah rangkaian yang menjadi satu kesatuan yang kuat.

Three. Plat Lantai

Plat lantai ialah lantai yang tidak terletak di atas tanah eksklusif, jadi adalah lantai tingkat. Plat lantai ini didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan.

Four. Tangga

Tangga ialah jalur bergerigi (mempunyai entice-lure) yang menghubungkan satu lantai dengan lantai diatasnya, fungsi lantai sebagai jalan untuk naik dan turun antar lantai oleh orang yang akan menggunakannya. Tangga sebaiknya terpisah dengan ruangan lain, supaya orang yang naik turun melewati tangga tidak mengganggu aktifitas penghuni yang lain. Tangga juga mampu digunakan sebagai jalan darurat apabila terjadi bencana (gempa,kebakaran).

5. Atap

Atap ialah penutup atas suatu bangunan yang berfungsi untuk melindungi dari panas dan hujan.Bentuk atap untuk bangunan bertingkat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : atap datar & atap sudut. Bentuk dan bahan atap harus sesuai dengan rangka bangunannya, agar dapat menambah keindahan bangunan.

6. Sanitasi

Menurut Azrul Anwar, sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap banyak sekali faktor lingkungan yang mungkin menghipnotis tingkat kesehatan masyarakat. Beberapa manfaat sanitasi diantaranya mencegah penyakit menular, menghindari pencemaran, mengurahi jumlah presentase sakit, serta lingkungan menjadi bersih, sehat, dan nyaman.

7. Pelengkap gedung

Pada bangunan bertingkat, aktifitas penghuninya sangat bergantung pada fasilitas gedungnya. Beberapa contoh fasilitas umum yang acapkali digunakan di dalam gedung diantaranya: listrik, pompa air, alat komunikasi, AC dan lainnya.

Dalam pelaksanaan pembangunan gedung bertingkat, K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan kawasan kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi atau bebas dari kecelakaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktifitas kerja.

Secara teoretis istilah-istilah bahaya yang acapkali dijumpai dalam lingkungan kerja ialah sebagai berikut :

1. Incident (Insiden), munculnya kejadian yang bahaya (kejadian yang tidak diinginkan, yang dapat/telah mengadakan kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas badan/struktur).

2. Accident (Kecelakaan), kejadian bahaya yang disertai adanya korban dan atau kerugian (insan/benda).

3. Hazard (Sumber Bahaya), suatu keadaan yang memungkinkan atau dapat menimbulkan kecelakaan, kerusakan atau menghambat kemampuan pekerja yang ada.

4. Danger (Taraf Bahaya), peluang bahaya sudah tampak (kondisi bahaya sudah ada tetapi dapat dicegah dengan banyak sekali tindakan preventif).

5. Risk (Risiko), prediksi tingkat keparahan apabila terjadi bahaya dalam siklus tertentu.

Dalam K3 ada tiga (3) pedoman yang selalu harus dipahami, yaitu :

1. Anggaran yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja.

2. Risiko kecelakaan dan penyakit yang akan terjadi kerja.

3. Diterapkan untuk melindungi tenaga kerja.

Target K3 ialah :

1. Menjamin proses produksi aman dan lancar.

2. Menjamin keselamatan operator dan orang lain.

3. Menjamin penggunaan peralatan yang aman dioperasikan.

Tetapi dalam pelaksanaannya banyak ditemukan hambatan dalam penerapan K3 dalam dunia pekerja konstruksi, hal ini terjadi dikarenakan beberapa faktor yaitu :

Dari sisi pekerja :

1. K3 belum menjadi tuntutan para pekerja.

2. Tuntutan pekerja masih meliputi kebutuhan dasar (upah dan tunjangan kesehatan/kesejahtraan).

Dari sisi pengusaha :

1. Pengusaha lebih menekan penghematan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi untuk menerima keuntungan yang sebesar-besarnya.

Ketentuan Penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) Konstruksi

Menurut kriteria penilaian dalam tingkat pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SMK3 ) khususnya penggunaan Alat Pelindung Diri pada proyek konstruksi, yang terdapat dalam Peraturan Menteri PU No. 9 Tahun 2008 sebagai berikut :

a) Baik, jika mencapai akibat penilaian >85%.

b) Sedang, jika mencapai akibat penilaian 60%-85%.

c) Kurang,jika mencapai akibat peniliaian <60%

Demikian, pembahasan ringkas mengenai K3 pada proses pembangunan gedung tingkat tinggi. Semoga bermanfaat dan jangan lupa share artikel ini. #RuangSipil

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Baca Juga:  Stabilisasi Tanah
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × 1 =