Pelaksanaan Pembangunan Bangunan Gedung Hijau (Bagian ke 4 dari 7 tulisan)

  • Share

Persyaratan pada tahap pelaksanaan pembangunan BGH terdiri atas proses konstruksi hijau, praktik perilaku hijau dan rantai pasok hijau. Ketiga hal ini berafiliasi sangat erat dan harus dilakukan dengan perencanaan/pengaturan yang baik karena kalau terjadi ketimpangan pada ketiganya maka visi untuk membangun sebuah BGH yang ramah lingkungan akan terhambat atau bahkan buyar sama sekali. Mari kita lihat satu in keeping with satu apa saja element yang harus dilaksanakan sehubungan dengan ketiga hal diatas.

1. Proses Konstruksi Hijau

Proses konstruksi hijau ialah cara kerja dan teknologi yang dapat memaksimalkan nilai yang ingin dicapai dengan meminimalkan pemborosan atau limbah yang dihasilkan pada tiap proses konstruksi.

Persyaratan proses konstruksi hijau tersebut ialah sebagai berikut :

Pemantauan proses konstruksi oleh web page engineer

a) Metode pelaksanaan konstruksi hijau

Metode pelaksanaan konstruksi hijau adalah penerapan metode konstruksi dengan mempertimbangkan minimalisasi emisi/polutan atau dampak negatif bagi lingkungan sekitar lokasi konstruksi.  Metode pelaksanaan konstruksi ini antara lain:

  • melakukan penjadwalan tiap tahap kegiatan dengan mempertimbangkan tingkat akurasi dan estimasi detil
  • melakukan pemantauan dan evaluasi atas keseluruhan proses konstruksi dan kegiatan-kegiatan konstruksi untuk meningkatkan produktivitas
  • melakukan evaluasi kegiatan dan perbaikan secara kontinyu
  • melakukan inovasi dalam metode konstruksi yang digunakan.

b) Pengoptimalan penggunaan peralatan

Di lapangan, kalau bangunan kita bertipe high rise buiding atau kalau bangunan kita termasuk dalam kategori bangunan tidak sederhana atau bangunan dengan kompleksitas tinggi, penggunaan peralatan konstruksi skala besar tidak dapat kita hindari. Penggunaan peralatan termasuk alat berat dilakukan seefisien mungkin melalui perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  • melakukan pengawasan operasional peralatan khususnya alat berat serta pemeliharaan peralatan secara bersiklus.
  • mengoperasikan peralatan berat yang memiliki izin laik fungsi
  • mempekerjakan operator peralatan alat berat yang bersertifikat dan
  • meminimalkan waktu jeda peralatan konstruksi khususnya alat berat.

C) Penerapan manajemen pengelolaan limbah konstruksi

Selama pembangunan atau pasca pembanguan, site kita dipastikan akan dipenuhi oleh benda-benda bekas konstruksi. Karenanya harus dilakukan manajemen pengolahan limbah konstruksi yang ditujukan untuk meminimalkan limbah yang dihasilkan selama proses konstruksi berlangsung baik berupa sisa material maupun sampah di lingkungan proyek. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :

  • pemakaian material termasuk alat bantu yang digunakan pada pelaksanaan konstruksi harus dioptimalkan guna menekan timbulan sampah konstruksi dengan pendekatan prinsip 3R yaitu mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle) material kostruksi.
  • menyiapkan area pemilahan dan pengumpulan sisa material pelaksanaan konstruksi sebelum digunakan kembali atau didaur ulang.
  • Menyediakan kawasan penyimpanan material dengan baik guna meningkatkan usia material sehingga penggunaan material menjadi efektif dan mengurangi volume material sisa.

D) Penerapan konservasi air pada pelaksanaan konstruksi.

Sepanjang pengalaman penulis, proses konstruksi akan menggunakan air dalam jumlah banyak. Maka konservasi air harus dilakukan dengan pengoptimalan penggunaan air yang diharapkan guna menjaga keseimbangan muka air tanah khususnya di lingkungan proyek sebagai dampak dari pelaksanaan konstruksi.  Pengoptimalan penggunaan air ini dilakukan dengan pendekatan prinsip 3R yaitu mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle) dan semaksimal mungkin melakukan peresapan air kembali ke dalam tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :

  • menyediakan penampungan air hujan dengan kapasitas semaksimal mungkin untuk dimanfaatkan sebagai sumber air pada pelaksanaan konstruksi.
  • pelaksanaan konstruksi BGH dengan luas dan kompleksitas tertentu wajib melakukan manajemen kurasan air (dewatering) pada tapak guna mengurangi volume air buangan berupa (1) pembuatan sumur pantau dan melakukan pengamatan terhadap penurunan air tanah sesuai dengan perencanaan dewatering yang disetujui; (2) melakukan pengamatan terhadap kemugkinan terjadinya penurunan muka tanah di sekitar lokasi pelaksanaan konstruksi berdasarkan  radius pengaruh kurasan air (dewatering) ); (3) mengambil langkah pengamanan dan penanggulangan terhadap pengaruh negatif yang timbul yang akan terjadi kurasan air (dewatering)  pada lokasi konstruksi maupun pada lingkungan sekitarnya; (4) semaksimal mungkin memanfaatkan kembali air akibat kurasan air (dewatering) melalui sistem penyaringan air sebagai salah satu sumber pasokan air bersih pada pelaksanaan konstruksi.
  • menggunakan sumur resapan dan kolam penampungan air hujan yang dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan air tanah dan mengurangi peredaran air permukaan.
  • melakukan manajemen penggunaan air sesuai dengan kualitas yang diperlukan.
  • adat, persyaratan dan detail penerapan konservasi air pada pelaksanaan konstruksi harus mengikuti ketentuan teknis perihal konservasi air.

E) Penerapan konservasi energi pada pelaksanaan konstruksi

Bahan bakar minyak (BBM) dan listrik ialah sumber energi yang paling banyak terpakai pada ketika proses konstruksi. Kalau kedua sumber energi ini tidak digunakan secara bijak maka BGH kita tidak akan mampu masuk kedalam kategori green building. Perlindungan energi pada pelaksanaan konstruksi dilakukan dengan mengimplementasikan manajemen energi yang terdiri atas efisiensi metodologi dan pengoptimalan penggunaan peralatan yang hemat energi. Efisiensi ini dilakukan dengan cara :

  • menyusun SOP manajemen energi dan panduan pelaksanaan konservasi energi
  • melakukan manajemen energi pada pelaksanaan konstruksi pada setiap urutan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang meliputi antara lain : (1) monitoring penggunaan listrik selama tahap konstruksi, (2) pemasangan kWh meter pada tahap pelaksanaan konstruksi, (3) penggunaan lampu hemat energi dan penggunaan sensor otomatis pada penerangan di lokasi pembangunan, (4) penggunaan alat dan peralatan yang telah lulus uji emisi.
  • melakukan monitoring dan evaluasi bersiklus atas penggunaan energi selama tahap pelaksanaan konstruksi yang menjadi dasar pertimbangan perbaikan agenda manajemen taktik.
  • mengikuti adat, persyaratan dan detail penerapan konservasi energi pada pelaksanaan konstruksi sesuai ketentuan teknis perihal konservasi energi.

2. Praktik Konduite Hijau

Kalau SOP kita sudah go green, peralatan kita sudah go green dan sistem perencanaan kita juga sudah go green, maka hal selanjutnya yang harus diperhatikan ialah faktor insan sendiri sebagai pelaku pemnbangunan. Konduite hijau pada tahap pelaksanaan konstruksi BGH dikenakan pada individu pekerja dan juga manajemen pelaksana di lapangan yang terdiri atas :

(a) penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3).

Penerapan SMK3 ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja konstruksi dan penyakit yang akan terjadi kerja konstruksi serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman guna meningkatkan produktivitas kerja.  Adat, persyaratan dan detail penerapan K3 mengikuti Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 1 Tahun 1980 perihal K3 pada Konstruksi Bangunan dan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

(b) Penerapan perilaku ramah lingkungan.

Penerapan perilaku ini harus diterapkan oleh setiap individu pekerja yang terlibat pada tahap pelaksanaan konstruksi guna mengurangi dampak negatif pada pelaksanaan konstruksi terhadap lingkungan.  Konduite ini dilakukan dengan menitikberatkan pada prinsip (1) penghematan dan konservasi energi, (2) penghematan dan konservasi air dan (3) penghematan dan konservasi sumber daya lainnya, khususnya sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.

3. Rantai Pasok Hijau

Rantai pasok hijau pada proses pelaksanaan pembangunan BGH ialah pasokan yang berasal dari pemasok dan sub pelaksana konstraktor yang berkontribusi melaksanakan produksi konstruksi dengan mempertimbangkan prinsip daur hidup (life cycle time) pasokan tersebut dengan tetap mempertimbangkan :

(a) penggunaan material konstruksi.

Penggunaan cloth harus dilakukan seoptimal mungkin agar pemakaian sumber daya lebih efisien dan mengurangi limbah konstruksi berupa sisa cloth. Penggunaan material harus mengacu pada

  • pengoptimalan material lokal,
  • penggunaan material ramah lingkungan,
  • penjadwalan pengiriman material dan pemanfaatan dengan sempurna,
  • perencanaan dan penetapan kriteria alat berat yang akan digunakan dan
  • meminimalkan kemasan material.

(b) pemilahan pemasok dan sub pemasok/sub kontraktor.

Pemilahan dilakukan dengan cara memperhitungkan telapak karbon yang paling rendah dengan mempertimbangkan lokasi perolehan alat berat dan material yang digunakan serta mengutamakan penggunaan pemasok alat atau pemasok material lokal semaksimal mungkin. Untuk perhitungan telapak karbon (carbon footprint) dapat anda baca lebih detail pada goresan pena di blog lain yang bertema lingkungan.

(c) konservasi energi.

Perlindungan energi harus dilakukan baik melalui pemilihan material maupun pemasok (atau sub pemasok/sub kontraktor) yang menjalankan prinsip penghematan energi yaitu :

  • melakukan audit energi pada peralatan
  • merencanakan dan menerapkan aturan terkait konservasi energi dan
  • merencanakan penggunaan alat berat hemat energi

Dengan memperhatikan dan mengoptimalkan proses konstruksi hijau, praktik perilaku hijau dan rantai pasok hijau mirip dijelaskan diatas, maka pelaksanaan proses konstruksi BGH kita lebih menjamin implemetasi proses perencanaan BGH yang telah kita lakukan pada tahap sebelumnya berjalan mirip yang diperlukan dan target-target perencanaan dapat dicapai secara maksimal. Ada sebuah pertanyaan yang muncul yaitu setelah proses konstruksi hijau selesai, apakah syarat sebuah BGH sudah terpenuhi seluruhnya? Jawabannya belum! Proses pemanfaatan sebuah BGH juga termasuk dalam penilaian grade dalam sebuah BGH. Aku akan memaparkannya untuk anda setelah goresan pena ini.

Salam hijau….

Subscribe to obtain unfastened email updates:

Baca Juga:  Menghitung Momen Inersia Bidang Datar (Mekanika Bahan)
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen + one =