Manajemen Mitigasi Bencana Banjir

Posted on 3 views

Bala (risiko/risk) adalah kombinasi dari three komponen, yaitu (1) bahaya (danger) dapat berupa fenomena alam dan atau aktivitas insan (2) tingkat kerentanan (vulnerability) masyarakat dalam menghadapi bencana dan (3) risiko yang ditimbulkan. Suatu kejadian dapat disebut dengan bencana apabila tingkat kemampuan dalam menghadapi bencana lebih rendah dibanding dengan tingkat bahaya yang mungkin terjadi.

Bahaya dapat menjadi bencana apabila kerentanan yang dimiliki komunitas tinggi atau dalam arti kapasitas dalam menghadapi bahaya lebih rendah dari tingkat bahaya tersebut.

Menurut Iwan (1999), mitigasi mencakup semua tindakan-tindakan yang diambil sebelum, selama, dan setelah terjadinya peristiwa alam maupun non alam, dalam rangka meminimalkan dampaknya. Tindakan mitigasi meliputi menghindari bahaya, menawarkan peringatan, dan evakuasi pada periode sebelum bahaya.

Mitigasi Banjir Sebelum, Saat dan Sesudah

Manajemen Mitigasi Banjir. (via:reuters.Com)

Banjir dapat dikategorikan sebagai bencana saat limpasan debit dari sungai menggenangi dan menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitarnya. Kerugianya pun bermacam-macam, mulai dari terganggunya aktivitas warga, timbulnya wabah penyakit yang akan terjadi genangan sampai terputusnya jalur transportasi darat yang akan berdampak pada sektor perekonomian.

Berikut ini ialah langkah-langkah dalam manajemen mitigasi bencana banjir.

1. Manajemen Pra Bala

a. Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan bencana banjir wajib dilakukan di wilayah yang berpotensi dan untuk meminimalisir bahaya banjir dapat melakukan beberapa upaya dalam pencegahan, penanganan, dan upaya rekonstruksi ulang pasca banjir bersama masyarakat di lingkungan sekitar berupa hal-hal mirip berikut:

  1. memperhatikan cuaca disekitar lingkungan kawasan tinggal,
  2. mencari berita ketinggian air dari pintu dan papan berita yang terpasang,
  3. mendengar alat sistem peringatan dini,
  4. memastikan sungai, pantai, dan saluran-saluran air disekitar bebas dari sampah dan sedimentasi, dan
  5. memastikan ketersediaan daerah resapan.

B. Deteksi Dini

Banjir adalah salah satu bencana yang dapat dideteksi dini untuk meminimalisir dampak atau kerugian yang ditimbulkan. Secara konvensional banjir dapat dideteksi dengan mengetahui ketinggian air di hulu sungai. Hal lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi banjir ialah dengan mengamati records intensitas hujan yang terjadi.

Pencatatan curah hujan dalam 24 jam yang dilakukan oleh stasiun hujan.pencatatan intensitas hujan dilakukan secara bersiklus dan manual (Yuwono & dkk 2013). Namun prediksi banjir tidak dapat dilakukan ketika hujan berlangsung. Deteksi dini secara konvensional masih belum optimal  dapat mendeteksi banjir secara akurat.

c. Pencegahan

  1. Membuat saluran air. Saluran air yang baik juga mampu berupa terowongan  saluran air di bawah tanah, yang menjamin semua air hujan akan disalurkan menuju laut.
  2. Membuang sampah pada tempatnya. Membuang sampah pada tempatnya adalah cara mencegah banjir yang efektif karena, dengan membuang sampah pada tempatnya maka banir juga mampu dihindari. Ada baiknya untuk tidak mengotori selokan yang berpotensimenimbulkan banjir.
  3. Rutin membersihkan saluran air. Membersihkan air juga mampu dikatakan sebagai salah satu mencegah banjir. Gotong  royong  sangat diharapkan untuk kebersihan bersama, adanya pasokan air akan terhambat apabila banyak tumbuhan yang ada diselokan air hanya akan menghambat saluran air saja.
  4. Mendirikan bangunan untuk pencegahan banjir. Fungsi  dari bendungan sendiri yaitu sebagai pengairan dan juga sebagai salah satu sarana pencegah banjir sehingga air yang datang masuk ke dalam bendungan.
  5. Menanam pohon. Menanam pohon sangat diharapkan untuk mencegah banjir karena akar akan menyerap air yang masuk kedalam tumbuhan.
  6. Membuat lubang biopori. Lubang biopori adalah teknologi yang sempurna dan juga ramah akan lingkungan untuk mencegah banjir yaitu dengan meningkatkan daya air yang meresap, dan mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos.
  7. Membuat sumur serapan. Sumur adalah sarana penampungan air, sehingga sangat diharapkan sebagai salah satu alat untuk mencegah datangnya banjir.
  8. Proyek pendalaman sungai. Kalau proses mengeruk lumpur dilakukan pada  sungai,  maka  sungai dapat mengalirkan jumlah air yang banyak.
  9. Melestarikan hutan. Sudah sepatutnya sebagai warga negara yang baik untuk melestarikan hutan untuk mencegah banjir yang akan datang nantinya.  Oleh karena itu jangan jadikan hutan sebagai lahan untuk mencari keuntungan saja, namun juga harus diperhatikan manfaatnya.

d. Mitigasi

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemamapuan menghadapi ancaman bencana baik bencana alam maupun bencana yang akan terjadi ulah insan. Terdapat empat hal penting dalam mitigasi bencana, yaitu sebagai berikut ini.

  1. Tersedianya berita dan peta daerah rawan bencana untuk tiap jenis bencana.
  2. Pengenalan  untuk  meningkatkan  pemahaman  dan  kesadaran  masyarakat dalam menghadapi bencana, karena bermukim di kawasan yang rawan bencana.
  3. Mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara penyelamatan diri kalau timbul bencana banjir.
  4. Adanya pengaturan dan penataan daerah rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana.

Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mitigasi bencana ialah sebagai berikut ini.

  1. Adanya pengawasan penggunaan lahan dan perencanaan lokasi untuk menempatkan fasilitas vital yang rentan terhadap banjir pada kawasan yang aman.
  2. Pembangunan tembok penahan dan tanggul di sepanjang sungai, tembok laut sepanjang pantai yang rawan badai atau tsunami yang akan sangat membantu mengurangi resiko bencana banjir.
  3. Membuat bangunan yang bertingkat dan desain diadaptasi agar aman ketika banjir tiba.
  4. Reduksi debit banjir pada kawasan hulu dengan pembangunan bendungan atau waduk, reboisasi dan pembangunan sistem resapan air.
  5. Nir  membuang sampah ke sungai dan adanya pembersihan sedimen dengan pengerukan sungai serta melakukan pembangunan saluran drainase.
  6. Adanya pelatihan perihal kewaspadaan banjir mirip cara penyimpanan atau pergudangan perbekalan dan kawasan istirahat yang aman ketika banjir.
  7. Perlunya persiapan evakuasi ketika bencana banjir tiba, mirip: perahu dan alat-alat penyelamatan lainnya.

2. Manajemen Ketika Bala

a. Tanggap Darurat

Tanggap darurat ialah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera mungkin pada ketika kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang  ditimbulkan.  Rangkaian  kegiatan  tersebut  terdiri  dari penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan  dan  pengurusan  pengungsi,  penyelamatan  serta  pemulihan sarana dan prasarana (UU Nomor 24 Tahun 2007 Perihal Penanggulangan Bala). Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tanggap darurat bencana banjir ialah:

  1. Nir berjalan di sekitar saluran air agar tidak terseret arus banjir.
  2. Ketika banjir hendaknya mematikan peredaran listrik di dalam rumah atau mampu juga dengan menghubungi PLN untuk mematikan peredaran listrik di wilayah yang terkena banjir.
  3. Ketika genangan air masih memungkinkan untuk dilewati warga harus segera mengungsi ke kawasan aman atau pergi ke posko banjir.
  4. Warga hendaknya juga segera mengamankan barang-barang berharga ke kawasan yang lebih tinggi
  5. Kalau arus air semakin meninggi hendaknya warga menghubungi instansi terkait dengan penanggulangan bencana agar dapat mengevakuasi korban untuk dibawa ketempat yang dinilai lebih aman.
  6. Melakukan distribusi logistik untuk para pengungsi dan mendirikan posko- posko beserta dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
  7. Mengirimkan tenaga medis dan obat-obatan ke posko-posko pengungsian.
  8. Siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare pada pengungsi.
  9. Kalau genangan air sudah tidak tinggi lagi, warga sebaiknya segera membersihkan rumah dengan antiseptik.

b. Donasi Darurat

Donasi darurat adalah upaya untuk menawarkan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar kepada korban bencana. Donasi  darurat dapat  diberikan mirip selimut, pakaian layak pakai, wc, kawasan tinggal sementara, air bersih serta makanan yang sehat baik yang sudah matang maupu belum matang. Selain itu, bantuan darurat yang dapat dilakukan oleh masyarakat berupa partisipasi dalam bentuk buah pikiran, tenaga, harta benda, keterampilan, dan kemahiran, serta partisipasi sosial. Akan tetapi, partisipasi yang mayoritas dilakukan oleh masyarakat ialah partisipasi tenaga dan partisipasi sosial (Nisa, 2014).

Mitigasi Saat Terjadi Banjir

Mitigasi Ketika Terjadi Banjir. (via: cnn.com)

3. Manajemen Pasca Bala

a. Pemulihan

Pemulihan sosial psikologis ditujukan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana, memulihkan kembali kehidupan sosial dan kondisi psikologis pada keadaan normal mirip kondisi sebelum bencana. Kegiatan pemulihan sosial psikologis yaitu kegiatan membantu masyarakat terkena dampak bencana sebagaimana dimaksud dilakukan melalui upaya pelayanan sosial psikologis berupa:

  1. bantuan konseling dan konsultasi;
  2. pendampingan;
  3. pelatihan; dan
  4. kegiatan psikososial Pelayanan kesehatan ditujukan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana dalam rangka memulihkan kondisi kesehatan masyarakat melalui pemulihan sistem pelayanan kesehatan masyarakat.

Kegiatan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat terkena dampak bencana sebagaimana dimaksud dilakukan melalui:

  1. membantu perawatan lanjut korban bencana yang sakit dan mengalami luka;
  2. menyediakan obat- obatan;
  3. menyediakan peralatan kesehatan;
  4. menyediakan tenaga medis dan paramedis; dan
  5. memfungsikan kembali sistem pelayanan kesehatan termasuk sistem rujukan.

Pemulihan sosial ekonomi budaya ditujukan untuk membantu masyarakat terkena dampak bencana dalam rangka memulihkan kondisi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya mirip pada kondisi sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya sebagaimana dimaksud dilakukan dengan membantu masyarakat menghidupkan dan mengaktifkan kembali kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya melalui:

  1. layanan advokasi dan konseling;
  2. bantuan stimulan aktivitas; dan
  3. pelatihan.

Pemulihan keamanan dan ketertiban ditujukan untuk membantu masyarakat dalam memulihkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di  kawasan  terkena dampak bencana agar kembali mirip kondisi sebelum terjadi bencana.

Kegiatan  pemulihan  keamanan  dan  ketertiban  dilakukan  melalui upaya:

  1. mengaktifkan kembali fungsi lembaga keamanan dan ketertiban di kawasan bencana;
  2. meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan pengamanan dan ketertiban; dan
  3. mengkoordinasi instansi/lembaga yang berwenang di bidang keamanan dan ketertiban.

Pemulihan fungsi pemerintahan ditujukan untuk memulihkan fungsi pemerintahan kembali mirip kondisi sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan fungsi pemerintahan dilakukan melalui upaya:

  1. mengaktifkan kembali pelaksanaan kegiatan tugas-tugas pemerintahan secepatnya;
  2. penyelamatan dan pengamanan dokumen-dokumen negara dan pemerintahan;
  3. konsolidasi para petugas pemerintahan;
  4. pemulihan fungsi-fungsi dan peralatan pendukung tugas-tugas pemerintahan; dan
  5. pengaturan kembali tugas-tugas pemerintahan pada instansi/lembaga terkait.

Pemulihan fungsi pelayanan publik ditujukan untuk memulihkan kembali fungsi pelayanan kepada masyarakat pada kondisi mirip sebelum terjadi bencana. Kegiatan pemulihan fungsi pelayanan publik sebagaimana dimaksud dilakukan melalui upaya-upaya:

  1. rehabilitasi dan pemulihan fungsi prasarana dan sarana pelayanan publik;
  2. mengaktifkan kembali fungsi pelayanan publik pada instansi/lembaga terkait; dan
  3. pengaturan kembali fungsi pelayanan publik.

b. Rehabilitasi

Rehabilitasi ialah upaya langkah yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting,dan menghidupkan kembali roda perekonomian.

Tindakan rehabilitasi juga dapat dibedakan menjadi dua tindakan yang harus dilakukan pada pasca banjir,yaitu tindakan jangka pendek yaitu tindakan yang dilakukan untuk mengembalikan layanan utama kepada masyarakat dan mencukupi kebutuhan pokok masyarakat. Kemudian tindakan jangka panjang yaitu tindakan dilakukan untuk mengembalikan kondisi masyarakat kepada kondisi normal atau bahkan lebih baik.

c. Rekonstruksi

Rekonstruksi ialah perumusan kebijakan dan perjuangan serta langkah-langkah nyata yang berkala baik, konsisten dan berkelanjutan untuk membangun kembali secara permanen semua prasarana, sarana dan sistem kelembagaan,  baik di tingkat pemerintahan maupun masyarakat, dengan sasaran utama tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi masyarakat sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah pasca bencana.

Dalam hal penanggulangan pasca banjir, terutama penanganan rekonstruksi maka diharapkan diharapkan suatu proses rekonstruksi yang sempurna berdasarkan perencanaan  yang baik sehingga sempurna sasaran dan juga tertib dalam penggunaan dana, serta bisa meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap ancaman banjir di masa mendatang melalui

usaha-usaha pengurangan risiko bencana.

Proses rekonstruksi pasca banjir yang baik harus menghasilkan pemulihan kondisi masyarakat baik secara fisik, mental, sosial dan ekonomi, dan bisa menurunkan kerentanan terhadap banjir, bukan memperparah kondisi kerentanan yang dapat menyebabkan terjadinya banjir.

Lingkup pelaksanaan rekonstruksi dibagi menjadi 2 acara yaitu acara rekonstruksi fisik dan acara rekonstruksi non fisik. Yang dimaksud  dengan rekonstruksi fisik ialah tindakan untuk memulihkan kondisi fisik lingkungan yang terkena banjir melalui pembangunan kembali secra permanen prasarana dan sarana permukiman, pemerintah dan pelayanan masyarakat (kesehatan, pendidikan, dan lain-lain), prasarana dan sarana ekonomi (jaringgan perhubungan, air bersih, sanitasi dan drainase, irigasi, listrik dan telekommunikasi dan lain-lain), prasarana dan sarana sosial (ibadah, budaya, dan lain-lain) yang rusak yang akan terjadi banjir agar kembali ke kondisi semula atau bahkan lebih baik dari kondisi  sebelum  banjir.

Sedangkan rekonstruksi non fisik ialah tindakan untuk memperbaiki atau memulihkan kegiatan pelayanan publik dan kegiatan sosial, ekonomi serta kehidupan masyarakat mirip sector kesehatan, pendidikan, perekonomian, pelayanan kantor pemerintahan, peribadatan dan kondisi mental/sosial masyarakat  yang terganggu pasca banjir, kembali  ke kondisi pelayanan dan kegiatan semula atau bahkan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Cakupan rekonstruksi non fisik diantaranya ialah sebagai berikut ini.

  1. Kegiatan pemulihan layanan yang berafiliasi dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat,
  2. Partisipasi dan  peran serta lembaga/organisasi  kemasyarakatan,  dunia perjuangan, dan masyarakat,
  3. Kegiatan pemulihan kegiatan perekonomian masyarakat, dan
  4. Fungsi pelayanan publik dan pelayanan utama dalam masyarakat serta kesehatan mental masyarakat.

Berita Banjir di Indonesia

Banjir di Indonesia. (via: bdnews24.com)

Artikel tentang Banjir

Banjir di Indonesia. (via: nypost.com)

Cerita tentang Banjir

Banjir di Indonesia. (via: abc.net.au)

Gambar Banjir

Banjir di Indonesia. (via: bbc.com)

Sekian, pembahasan kami mengenai Manajemen Mitigasi Bala Banjir yang terdiri dari Manajemen pra bencana, Manajemen ketika bencana dan Manajemen pasca bencana. Semoga bermanfaat dan menambah ilmu kita semua.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Baca Juga:  Tips Membeli Rumah Dengan Aman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 6 =