Kewajiban Arsitek Kepada Sejawat

Posted on 1 views

Tak ada insan yang dapat hidup sendirian di dunia ini. Semua orang bergantung satu sama lain kepada invidu di sekitarnya.  Demikian p**a dalam dunia arsitektur.  Seorang arsitek akan diharuskan bekerja sama dengan rekan satu tim ketika dihadapkan pada sebuah project.  Apalagi kalau project yang dikerjakan besar dan rumit.  Kontribusi rekan sejawat pada sebuah karya ialah sebuah fenomena biasa.  Karena memang begitu banyak cabang ilmu yang dikembangkan ketika ini yang berafiliasi secara eksklusif atau tidak eksklusif dengan dunia arsitektur yang mengharuskan sang arsitek mau atau tidak mau membuka diri bagi sumbangsih sejawat selama proses pengerjaannya.  Pada ketika mirip inilah seorang arsitek membutuhkan alur yang pas bagi sebuah kerja sama. Sebuah rambu-rambu yang harus ditaati kalau ingin tim yang dipimpinnya bekerja dengan output yang baik.

Photo by way of wallpaperflare.Com

I SEMANGAT KESEJAWATAN SESAMA ARSITEK

Silih Asih

Di hadapan Yang kuasa, tidak ada insan yang superior dan inferior.  Kecuali pada amalan-amalan agamanya, insan dianggap sama dan setara.  Kesetaraan ini akan melahirkan etos musyawarah, kerja sama dan kecenderungan untuk bertindak adil.

Silih Asah

Arsitek harus selalu berbagi semangat untuk secara bersama-sama memperluas wawasan, mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi dan meningkatkan kemampuan ilmiah.  Ini dilakukan secara bersama-sama sehingga tidak terjadi saling tindih dan saling meniadakan antara sesama arsitek yang bekerja dalam sebuah tim.

Silih Asuh

Saling mengingatkan, saling menasehati dan saling tegur sapa dalam kebaikan juga wajib dikembangkan dalam lingkungan arsitek.  Konsep ini akan melahirkan ikatan emosional yang kuat antar sesama arsitek sehingga kalau terjadi “gangguan” dari luar, arsitek akan bereaksi bersama untuk menaklukkan gangguan tersebut.

Anti Subordinat

Agama dan ras tidak boleh menjadi alasan bagi perlakuan berbeda bagi sejawat.  Kadang arsitek juga dihadapkan pada pilihan sejawat yang memiliki keterbatasan fisik, cacat tubuh, gagal dalam pernikahan dan bahkan gender pun mampu jadi pemicu perbedaan perlakuan.  Parameter yang harus dipakai dalam kondisi memilih mirip ini bukanlah semua hal yang disebutkan diatas melainkan wawasan keahlian, keterampilan dan attitude.

Pembinaan Arsitek Belia

Regenerasi dalam dunia arsitektur mutlak diperlukan. Munculnya para arsitek belia akan menjadi pelengkap bagi kehadiran dan keberadaan arsitek senior.  Arsitek belia bukan ancaman melainkan menjadi partner kerja yang mampu mencerahkan arsitek senior.  Pembinaan dan pengembangan kecakapan arsitek belia harus dilakukan agar terjadi regenerasi dalam profesi arsitek.

Baca Juga:  Kayu: Mutu, Pengawetan, Pengeringan, Cacat Kayu dan Bahan dari Kayu

Lingkungan Kerja Yang Aman

Produktifitas sebuah tim ditentukan oleh banyak faktor.  Salah satu faktornya ialah lingkungan kerja yang kondusif.  Pemberian reward dan punishment serta pemberian kesempatan untuk pengembangan kecakapan profesional secara wajar akan meningkatkan efektifitas dan daya kerja tim dalam mengerjakan karya-karya arsitektural.

Pelanggaran Kode Etik

Kadang ditemui pelanggaran etik oleh oknum arsitek. Kalau menemui hal mirip ini yang harus dilakukan ialah melaporkan sang oknum ke Dewan Kehormatan IAI.  Laporan ini tidak didasarkan pada niat untuk merugikan atau mencemarkan nama baik namun justru untuk melindungi sang oknum dari keasalahan yang lebih parah.

II PENGAKUAN KESEJAWATAN

Persaingan Sehat

Dalam dunia kerja yang makin kompleks tentu saja persaingan akan timbul.  Akan tetapi ada etika yang harus dipegang dalam memenangkan atau menerima kepercayaan klien.  Kalau ditawari oleh seorang klien untuk melaksanakan suatu project yang diketahui masih dalam penguasaan arsitek lain, wajiblah melakukan konfirmasi kepada arsitek yang bersangkutan.

Orisinalitas Karya Arsitektur

Setiap arsitek punya ilham yang spesifik untuk menuangkan kreasinya dalam sebuah karya.  Untuk menjaga profesionalitas dan kredibilitas, seorang arsitek tidak dibenarkan mengambil alih hak intelektual atau memanfaatkan karya/kreasi atau ilham dari arsitek lain tanpa izin dari arsitek pemilik gagasan tersebut.

Over Handle Tugas

Kadang dijumpai kondisi dimana seorang arsitek yang telah mendapatkan job dari seorang klien berhalangan tetap sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.  Arsitek lain dapat melanjutkan pekerjaan tersebut dengan catatan relasi kerja antara pengguna jasa dan arsitek yang digantikannya sudah selesai.

Reputasi, Jasa dan Kinerja

Dalam persaingan dunia jasa konstruksi, perjuangan untuk menerima job dari klien kadang menyebabkan ada pihak-pihak yang menggunakan cara-cara yang tidak elegan.  Sebagai arsitek yang memegang teguh etika, reputasi profesionalnya haruslah dibangun atas dasar penilaian jasa dan kinerja.  Arsitek juga harus bisa mengakui serta menyatakan apresiasi pada arsitek lain atas akibat kinerja profesional mereka.

III IMBALAN JASA

Nir Menyebutkan Imbalan Kalau Nir Diminta

Pada ketika memberikan jasanya sebagai konsultan berdikari, seorang arsitek tidak dibolehkan menyebutkan imbalan jasa apabila tidak diminta. Itu etika yang harus dipegang.   Seorang arsitek justru harus terlebih dahulu menginformasikan secara memadai perihal sifat dan lingkup pekerjaannya, untuk dapat mengajukan suatu usulan imbalan jasa yang akan diberikan.  Ini agar pemberi tugas dan masyarakat terlindungi dari pengurangan dan penambahan lingkup jasa yang tidak berada di bawah tanggung jawabnya.

Baca Juga:  7 Cabang-cabang Ilmu Teknik Sipil

Persaingan Sehat

Persaingan antara sesama arsitek tentu saja sebuah kepastian yang lumrah terjadi.  akan tetapi ada satu etika yang harus diperhatikan yaitu ketika memberikan jasanya sebagai konsultan bebas, arsitek tidak boleh mengubah usulan imbalan jasa yang telah diajukannya demi menerima keuntungan kompetitif, setelah melihat proposal imbalan jasa yang diusulkan oleh arsitek lain untuk pekerjaan yang sama.  Ini untuk melindungi masyarakat dan calon pengguna jasa arsitek dari persaingan tidak sehat antara sesama arsitek.

IV PARTISIPASI DALAM SAYEMBARA

Memperhatikan Dukungan Asosiasi Profesi

Mampu saja terjadi asosiasi profesi kawasan arsitek bernaung tidak mempunyai keyakinan yang baik perihal penyelenggaraan sebuah sayembara.  Keraguan ini mampu dilihat dari sisi personil penyelenggara, organisasi penyelenggara/EO, tujuan penyelengaraan, adat penyelenggaraan, tim juri, besaran hadiah, dll.  Kalau asosiasi kawasan arsitek bernaung telah menyatakan sayembara tersebut tidak layak diikuti maka arsitek sebaiknya menahan diri untuk terlibat dalam sayembara dimaksud baik sebagai peserta maupun sebagai personil pendukung lainnya.

Jujur Dalam Bertindak Sebagai Juri Sayembara

Apabila ditunjuk sebagai penilai dalam suatu sayembara, arsitek harus bertindak sesuai dengan kapasitasnya.  Jangan hingga cita-cita penyelenggara sayembara akan kapasitas penilaian sebagai juri menjadi tidak terpenuhi hanya karena arsitek tidak jujur menyatakan keahlian/kapasitas terbaik yang dimilikinya sehubungan dengan penjurian sayembara tersebut.

V PENILAIAN ATAS ARSITEK LAIN

Seorang arsitek hendaknya tidak melecehkan karya arsitek lain dengan tujuan untuk menguntungkan pihak tertentu dengan cara tidak adil, dalam forum terbuka atau media m***a.  Jika ditunjuk untuk menawarkan opini mengenai pekerjaan arsitek lain, seyogyanya memberitahu arsitek yang bersangkutan, kecuali jika hal tersebut kemungkinan akan menghipnotis akibat tindakan dalam ranah hukum yang sedang berjalan. Kritik atas karya arsitek lain hendaknya dilakukan dalam batas-batas profesional dan objektifitas yang teruji, bukan untuk mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri agar ditunjuk menggantikan peran arsitek tersebut sebagai rekanan pemberi tugas.

Subscribe to acquire loose electronic mail updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 4 =