Just In time, DAMPAK IMPLEMENTASI JIT || Materi Teknik Industri

Posted on 47 views

Schonberger dan Ansari (1984) dalam Zenz (1994) mengemukakan dampak dari implementasi sistem JIT pada departemen pembelian terhadap kualitas, yaitu

1. Ukuran Lot (lot size)

Pembelian dalam ukuran lot yang kecil dengan frekuensi penyerahan yang lebih acapkali. Dampaknya yaitu deteksi dan koreksi pada kecacatan lebih cepat.

2. Penilaian Pemasok

Pemasok dievalusi berdasarkan kemampuan menawarkan material dan elements berkualitas tinggi. Dampaknya yaitu pemasok menawarkan perhatian penuh pada kualitas material atau element yang diserahkan

Three. Pemilihan Pemasok

Pemasok tunggal dalam lokasi geografis yang berdekatan. Dampaknya yaitu memudahkan kunjungan dan menawarkan bantuan teknis kepada pemasok, serta menciptakan pemahaman yang lebih baik dan cepat terhadap kebutuhan kualitas

4. Spesifikasi material

Spesifikasi penuh hanya pada karakteristik material yang penting. Dampaknya pemasok mempunyai pilihan yang lebih banyak dalam desain produk dan metode manufakturing, yang berarti lebih  memungkinkan untuk mempertahankan spesifikasi.

five. Ikatan Kontrak

Kontrak yang panjang dengan pemasok yang sama, membangun relasi kemitraan yang bersifat casual. Dampaknya pemasok dapat menyesuaikan biaya dari komitmen jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan kualitas serta menjadi lebih peduli terhadap kebutuhan pembeli.

6. Pemeriksaan Penerimaan

Pemasok bertanggung jawab penuh atas kualitas material, sehingga inspeksi penerimaan dapat dikurangi dan mungkin dapat dihilangkan. Dampaknya yaitu membangun kualitas pada sumber (pemasok) lebih efektif dan efisien.

7. Kertas Kerja

Sistem formal menjadi berkurang, sehingga mengurangi quantity penggunaan kertas. Dampaknya lebih banyak waktu yang tersedia bagi orang-orang di bagian pembelian untuk menyelesaikan masalah-masalah kualitas.

Berikut perbandingan antara praktek pembelian menggunakan sistem JIT yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Jepang dengan praktek pembelian tradisional yang banyak diterapkan oleh perusahaan Amerika Perkumpulan menurut Lee dan Ansari (1985) dalam Adam dan Ebert (1992), yaitu

No

Aktivitas Pembelian

Praktek Pembelian JIT

Praktek Pembelian Tradisional

1

Ukuran lot pembelian (purchase lot length)

Pembelian dalam ukuran lot kecil dengan frequensi penyerahan yang lebih acapkali

Pembelian dalam ukuran lot besar dengan frekuensi penyerahan yang lebih sedikit/jarang.

2.

Pemilihan Pemasok

Berafiliasi dengan pemasok tunggal untuk fabric atau element tertentu dalam lokasi geografis yang dekat berdasarkan kontrak jangka panjang

Baca Juga:  Bambu Sebagai Alternatif Baja Tulangan | Apa Bisa?

Berafiliasi dengan banyak pemasok untuk fabric atau element tertentu berdasarkan kontrak kerja jangka pendek.

Three.

Penilaian Pemasok

Pemasok dievaluasi berdasarkan pada kualitas material, performansi penyerahan, dan harga

Pemasok dievaluasi dengan lebih menekan pada harga material

4.

Pemeriksaan penerimaan

Penghitungan dan inspeksi kedatangan material dikurangi dan mungkin dihilangkan, dalam hal ini tanggung jawab dialihkan ke pemasok

Pembeli bertanggung jawab untuk mendapatkan, menghitung dan menginspeksi kedatangan fabric

five.

Negosiasi dan proses kontrak

Tujuan utama ialah untuk mencapai kualitas material melalui kontrak jangka panjang dan harga yang pantas (saling menguntungkan).

Tujuan utama ialah untuk memperoleh material dengan harga yang serendah mungkin (lebih menguntungkan pembeli)

6.

Penentuan Mode Transportasi

Memperhatikan penyerahan sempurna waktu, jadwal penyerahan ditentukan oleh pembeli dan memperhatikan ongkos transportasi yang pantas

Lebih menekankan pada ongkos transportasi yang rendah dengan jadwal penyerahan ditentukan oleh pemasok

7.

Spesifikasi Material

Pembeli lebih percaya pada spesifikasi performansi daripada desain material, dan dalam hal ini pemasok disorong untuk menjadi lebih inovatif

Spesifikasi fabric ditentukan secara ketat oleh pembeli, sehingga pemasok tidak memiliki kebebasan dalam mendesain spesifikasi cloth, pembeli lebih percaya spesifikasi desain daripada performansi fabric.

8.

Kertas Kerja

Dikarenakan telah membina relasi baik yang bersifat casual, pesanan pembelian yang berkaitan dengan waktu penyerahan dan kuantitas pesanan dan kuantitas pesanan dapat dilakukan melalui telepon

Membutuhkan pesanan pembelian secara formal dengan menggunakan formulirpesanan pembelian. Perubahan-perubahan pada ketika penyerahan membutuhkan perubahan pada formulir pesanan pembelian (buy orders)

9.

Pengepakan

Menggunakan kontainer berukuran kecil untk menampung kuantitas fabric sengan spesifikasi yang sempurna

Pengepakan reguler untuk setiap jenis fabric tanpa spesifikasi yang terang pada isi material.

Beberapa karakteristik implementasi JIT dalam pembelian menurut Schonberger (1982), yaitu:

1. Kuantitas

a.       Taraf kuantitas stabil sesuai yang diinginkan

b.      Penyerahan dalam ukuran lot kecil dengan frekuensi lebih acapkali

c.       Kontrak jangka panjang, misal dengan menggunakan sistem BPO

d.      Lebih sedikit menggunakan kertas

2. Kualitas

a.       Spesifikasi minimum

b.      Pemasok membantu untuk memenuhi kebutuhan kualitas

Baca Juga:  Teknologi Beton pada Konstruksi | Belajar dari dasar Teknologi Beton

c.       Membina relasi yang erat antara pemasok dan pembeli

d. Pemasok didorong untuk menggunakan pengendalian proses daripada mengandalkan inspeksi

Three. Pemasok

a.    Membina relasi dengan lebih sedikit pemasok dalam kondisi geografis yang dekat

b.    Aktif menggunakan analisis nilai untuk menerima pemasok yang diinginkan dan bertahan pada harga yang kompetitif

c.       Melakukan pengelompokan pemasok

d.   Pemasok disorong untuk melakukan JIT dalam aktivitas pembelian ke pemasok mereka

4. Pengiriman

a.    Pengiriman berkala dengan menggunakan mode transportasi yang telah dikontrak dalam jangka panjang

Serta manfaat penerapan JIT, yaitu:

1. Ongkos

a.    Ongkos penyimpanan inventori menjadi rendah

b.   Penurunan ongkos material karena manfaat dari pengalaman belajar jangka panjang dalam menggunakan pemasok yang terbatas

c.    Ongkos skrap menjadi berkurang, karena kecacatan telah dapat dideteksi semenjak dini

2. Kualitas

a.       Deteksi kecacatan lebih cepat, karena frekuensi penyerahan material lebih acapkali

b.      Tindakan korektif pada kecacatan lebih cepat, karena scrap dari pemasok lebih acapkali dengan ukuran lot produksi lebih kecil

c.       Kebutuhan untuk inspeksi lebih sedikit, karena pemasok didorong menggunakan pengendalian proses

d.      Kualitas dari material yang dibeli lebih tinggi, karena pemasok bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan kualitas

Three. Desain

a.       Respons terhadap perubahan rekayasa (engineering design) lebih cepat

b.      Menimbulkan ivovsi dalam desain

4. Efisiensi Administratif

a.       Kebutuhan untuk kontrak lebih sedikit

b.      Lebih sedikit pembatalan yang dilakukan

c.       Ongkos administratif mrnjadi berkurang

d.      Perhitungan material yang diterima lebih mudah

e.      Identifikasi material yang diterima lebih mudah dan cepat

five. Produktivitas

a.       Pekerjaan ulang (rework) berkurang

b.      Pemeriksaan material berkurang

c.       Mengurangi keterlambatan produksi

d.  Meningkatkan efisiensi pembelian, pengendalian produksi, pengendalian inventori, dan pekerjaan supervisi

Baca Juga “Stategi Impementasi JIT” dan “Pengertian JIT”

…………………….

Gasperz, Vincent. 200five. “Total Quality Manajemen”. Gramedia Pustaka Primer, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two − one =