Dasar Dasar Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

  • Share

Hak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan menerima lingkungan hidup yang baik dan sehat ialah adalah kebutuhan dasar insan. Ini ialah sebuah fakta yang tidak mampu dibantah.  Kepribadian bangsa yang dicirikan oleh insan Indonesia seutuhnya, berjati diri, berdikari, dan produktif akan sangat terpengaruh kalau kesejahteraan lahir batin, kenyamanan kawasan tinggal, keselarasan lingkungan hidup yang sehat tidak terwujudkan dalam proses pembangunan perumahan dan permukiman Indonesia.

Photo by way of Flickr.Com

Untuk mewujudkannya tentu saja tidak mudah.  Poly faktor yang berpengaruh pada proses terbangunnya sebuah perumahan/permukiman yang mampu dikatakan layak bagi masyarakat. Salah satunya ialah kemampuan masyarakat untuk membangun kawasan tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau di dalam perumahan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan.

Secara element, hal-hal yang harus dipenuhi dalam pembangunan perumahan dan permukiman ini ialah sebagai berikut :

1. Kesejahteraan

Kesejahteraan sebetulnya ialah ujung dari seluruh proses pembangunan perumahan dan permukiman yang baik. Point ini sengaja diletakkan paling depan karena goals dari seluruh regulasi atas investasi infrastruktur perumahan dan permukiman baik yang dibangun pemerintah, dibangun swasta maupun yang dibangun masyarakat secara berdikari/swadaya harus bermuara pada hal ini.  Kesejahteraan yang disasar ialah kondisi fisik perumahan dan permukiman yang baik, sehat, tenang dalam lingkungan kekeluargaan dan makmur dalam konteks ketercapaian output finansial.

2. Keadilan dan Pemerataan

Tahun 2019 lalu Indonesia berhasil masuk peringkat 15 dari negara G20.  Apa itu Negara G20? Disadur dari WIkipedia,G-20 atauKelompok 20 ekonomi utama ialah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa. Secara resmi G-20 dinamakanThe Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Dua puluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral. Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Rendezvous perdana G-20 berlangsung di Berlin, 15-16 Desember 1999 dengan tuan rumah menteri keuangan Jerman dan Kanada. [1]

Latar belakang pembentukan forum ini berawal dari terjadinya Krisis Keuangan 1998 dan pendapat yang muncul pada forumG-7 mengenai kurang efektifnya pertemuan itu jika tidak melibatkan kekuatan-kekuatan ekonomi lain agar keputusan-keputusan yang mereka buat memiliki pengaruh yang lebih besar dan mendengarkan kepentingan-kepentingan yang barangkali tidak tercakup dalam kelompok kecil itu. Kelompok ini menghimpun hampir 90% produk nasional bruto (PNB, GNP) dunia, 80% total perdagangan dunia dan dua per tiga penduduk dunia.

Akan tetapi, meskipun masuk dalam peringkat 15 dunia dan bahkan diramalkan bakal menjadi penggerak ekonomi dunia di peringkat 5 besar dalam kurun 20 tahun mendatang, Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam pemerataan kesejahteraan.Didik J Rachbini seorang guru besar ilmu ekonomi, pendiri INDEF pernah menulis, di negara kita ini, satu persen orang menguasai lebih dari dua pertiga pemilikan tabungan dan deposito.

Pemerataan ekonomi ini kalau dibawa kedalam body perumahan dan permukiman akan merefleksikan bagaimana seharusnya terjadi zonasi yang merata antara perumahan elit, medium dan perumahan sederhana, satuan hunian elit, satuan hunian medium dan satuan hunian sederhana. Nir hanya perihal zonasi, pemerataan dan keadilan ini juga harus ditinjau dari segi aksesibilitas keuangan, pelayanan dasar infrastruktur, dll.

Three. Nasionalisme

Nasionalisme kurang lebih mampu diartikan sebagai sikap politik suatu bangsa.  Satuan hunian yang terbentuk biasanya secara relatif akan menggambarkan sikap politik ini.  Di Kota Philadelphia, Negara Bagian Pennsylvania USA, ada sekelompok imigran Indonesia yang tinggal berdekatan dan kemudian secara alamiah membentuk kelompok hunian yang namanya Kampung Surabaya.  Meskipun berasal dari Indonesia, namun sebagian dari mereka sudah punya izin tinggal dan bekerja di AS dan tentu saja harus menghormati sikap politik Pemerintah AS.  Kita di Indonesia juga akrab dengan sebutan kelompok hunian Kampung Arab, Kampung Cina, Kampung Bugis bukan?  Itu karena memang ada kecenderungan bahwa insan sebagai makhluk sosial ingin membentuk kelompok hunian dengan sesama makhluk sosial yang memiliki kemiripan sikap, budaya, cara berpikir, bahasa, dll.

Four. Efisiensi dan Kemanfaatan

Efisiensi ialah kata yang mampu menggambarkan perihal penggunaan sumber daya secara minimal untuk mencapai sebuah tujuan. Kadang kala efisiensi ini berlawanan dengan efektifitas karena sebuah alat yang efektif digunakan untuk mencapai tujuan belum tentu dapat dikatakan sebuah alat yang efisien.

Apa saja yang harus dikelola secara efisien untuk menerima kemanfaatan sebuah perumahan atau permukiman?

Baca Juga:  Lowongan Kerja PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk

a. Tanah

Ketersediaan tanah makin hari terbatas dikarenakan populasi insan yang makin padat.  Kalau tidak dikelola dengan baik akan banyak lahan terbuang sia-sia sementara disisi lain banyak pemukim yang butuh lahan untuk ditempati.

b. Teknologi

Di era teknologi industri 4.0 bahkan menuju teknologi industri 5.0, hampir tidak ada sisi kehidupan insan yang tidak bersentuhan dengan teknologi.  Penggunaan teknologi ini butuh disaring dengan benar karena kalau tidak teknologi justru mampu membawa kehancuran bagi lingkungan termasuk lingkungan perumahan dan permukiman.

c. Air

Sebanyak 70% bagian dari permukaan Bumi ini ialah air.  Ketersediaan air sangat menghipnotis kehidupan insan.  Tanpa pemanfaatan air yang efisien Bumi (termasuk perumahan dan permukiman) akan hancur dan punah.

d. Udara

Tanpa udara insan tidak mampu beraktifitas. Kualitas udara yang baik tentu saja sangat diperlukan agar insan dapat hidup dan beraktifitas di lingkungannya. Ada yang bilang kita tidak perlu menghemat udara karena udara tersedia tanpa batas.  Yang masih berpendapat mirip ini dapatlah kiranya memperhatikan perihal fakta-fakta kondisi udara di beberapa negara dalam 1 tahun terakhir.  Yang aku maksudkan perihal efisiensi penggunaan udara bukanlah bagaimana menghemat udara melainkan bagaimana mengolah/memperlakukan udara di Bumi (dalam hal ini bagaimana memperlakukan lingkungan perumahan dan permukiman kita) agar udara tersebut tetap bersih dan sehat bagi paru-paru kita.

5.  Keterjangkauan dan Kemudahan

a. Keterjangkauan transportasi

Pertumbuhan suatu wilayah sangat bergantung pada transportasi.  Kita mampu membayangkan bagaimana kondisi sebuah permukiman kalau terisolasi dari sistem transportasi kota, repot bukan? Mau kemana-mana susah, mau ada kunjungan penting susah, bahkan mampu saja untuk cari makan saja warga akan kesulitan. Imbasnya harga barang akan naik dan menyebabkan daya beli warga menurun.  Itulah makanya aksesibilitas dalam bidang transportasi sangat berpengaruh pada pertumbuhan sebuah daerah atau satuan hunian perumahan dan permukiman.

B. Kemudahan Pendanaan

Ialah banyak kita temui kemudahan pendanaan yang ditawarkan oleh pengusaha properti dalam menjual daerah yang telah dibangunnya.  Kemudahan pendanaan ini menjadi salah satu faktor dalam pertumbuhan daerah dimana warga dapat mengakses fasilitas perbankan dan non perbankan dalam membangun rumah.  Di daerah permukiman (non developer) pendanaan rumah oleh pengusaha properti dan perbankan dapat juga dilaksanakan namun ada satu bidang yang juga selalu dilaksanakan pemerintah yaitu pendanaan pembangunan bidang infrastruktur dasar.

C. Aksesibilitas Sosial Budaya

Dalam kacamata permukiman modern, tentu saja sebuah permukiman harus terbuka bagi semua tata cara dan budaya. Namun di beberapa titik di Indonesia, akses budaya ini agak sulit ditembus.  Sebutlah suku Baduy (khususnya Baduy Dalam) di Banten, Suku Samin di Bojonegoro, Suku Polahi di Gorontalo, Suku Anak Dalam di Jambi dan beberapa suku lainnya yang memilih bermukim jauh dari kehidupan modern.  Aksebilitas budaya dari dan keluar daerah permukiman mereka tentu saja sangat ketat.  Beberapa suku malah tidak punya permukiman tetap dan selalu berpindah sehingga menyulitkan pendatang dari luar untuk bergabung.

6.  Kemandirian dan Kebersamaan

Berdikari ialah suatu sikap yang tidak mau menggantung diri pada orang lain baik secara fisik, secara psikis, secara finansial, dll.  Kebebasan dan kemerdekaan ialah kata kuncinya.  Dalam konteks perumahan dan permukiman, warga diperlukan dapat berinisiatif merencanakan kebutuhan satuan huniannya secara demokratis dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan solusi atas keterbatasan sumber daya.  Apa manfaatnya? Dengan menjalankan kemandirian ini warga akan dapat memperkecil ketergantungan pada dana pemerintah dan juga dapat menumbuhkan kepercayaan pada kemampuan membangun lingkungan huniannya dengan sumber daya sendiri.

7.  Kemitraan

Kemitraan ialah sesuatu yang tidak mampu dihindari karena insan itu makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendirian.  Kemitraan dengan satuan hunian lain mutlak diharapkan karena dalam sistem pertumbuhan suatu kota, satuan-satuan hunian terhubung satu sama lain secara ekonomi, sosial maupun budaya.  Selain kemitraan antar satuan hunian, kemitraan dengan pemerintah juga harus dibangun bukan hanya karena daerah permukiman dihuni oleh penduduk yang mendiami suatu teritori negara namun juga karena biasanya pembiayaan infrastruktur dalam daerah permukiman sangat dipengaruhi oleh kebijakan negara. Kemitraan dengan swasta dapat terbangun kalau ada kepedulian swasta dalam berinteraksi dengan daerah permukiman yang terdekat dengan lokasi perusahaan dan juga apabila masyarakat dalam permukiman tersebut terbuka mendapatkan kehadiran perusahaan di lingkungan mereka.

8.  Keselarasan & Ekuilibrium

Selaras dan serasi ialah kecocokan, kebenaran dan kesesuaian. Kesesuaian yang harus dicapai ialah :

1. Kesesuaian struktur ruang. Mengapa? Karena sebuah daerah permukiman atau sebuah satuan hunian secara eksklusif atau tidak terikat dalam sebuah struktur tata ruang kota/wilayah.  Kalau sebuah satuan hunian terlepas berkembang sendirian tanpa kendali dan tanpa memperhitungkan satuan hunian lainnya akibat ialah ketidakseimbangan fungsi atau ketidakteraturan pada struktur ruang kota.  Ini dapat menyebabkan kota tumbuh timpang dan menjadi sulit diatur.

Baca Juga:  Desain dan RAB Pembangunan WC (Jamban) Umum

2. Ekuilibrium lingkungan juga perlu dijaga karena ketidakseimbangannya dapat menyebabkan bencana yang  bukan hanya akan dirasakan oleh warga permukiman tersebut tetapi dapat juga berimbas pada warga satuan hunian lain di kawasan lain.

3. Rasio pertumbuhan antar kawasan juga harus diperhatikan.  Memacu pertumbuhan kawasan tertentu dengan mengabaikan pertumbuhan kawasan lain akan menyebabkan ketidaksesuaian dan ketidakseimbangan.  Akibatnya mampu macam-macam mirip kecenderungan migrasi penduduk (yang tidak terkendali), ketimpangan sosial sampai juga pada tumbuhnya mental apatis, tingginya angka pengangguran, krimininalitas dan beberapa efek jangka panjang lainnya.

9.  Keterpaduan

Penyatuan kebijakan dalam perencanaan perumahan dan implementasi pelaksanaannya di lapangan akan menjadi sebuah faktor penunjang bagi sebuah satuan hunian atau sebuah daerah permukiman tumbuh dan berkembang dengan baik.  Sebuah contoh yang baik untuk dilihat ialah penataan Kampung Beting di Pontianak, Kalimantan Barat.  Kampung yang tadinya kumuh dan terkenal dengan sentra aliran narkoba itu dibangun dengan perencanaan yang matang dengan melibatkan pemerintah sentra, pemerintah kawasan dan masyarakat setempat.  Dengan demikian terlihat terang bagaimana pemerintah dan masyarakat bahu membahu membangun kampung tersebut menjadi terlihat berbeda dengan stigma negatif yang terlanjur melekat sebelumnya.  Keterpaduan kebijakan antar sektor juga tercermin dalam pembangunan ekonomi Kampung Beting.  Bahkan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang secara tugas dan fungsi mungkin memiliki persinggungan yang sangat sedikit dengan konsep pembangunan perumahan dan permukiman memiliki andil dalam pembangunan kampung Beting.  Yang BNN lakukan pun ialah salah satu yang tidak biasanya melekat dengan nama mereka yaitu melakukan pembinaan kewirausahaan bagi masyarakat pinggiran.  Terlihat sekali bukan, bagaimana keterpaduan antara perencanaan dan implementasinya lalu juga keterpaduan antar pemerintah (sentra dan kawasan) dan juga keterpaduan antar instansi dalam pengembangan permukiman di daerah ini?

10.  Kesehatan

Dari sisi kesehatan ada dua hal yang harus terbangun dalam mewujudkan sebuah daerah permukiman yang sehat yaitu k esehatan lingkungan dan k esehatan perilaku warganya.  Nir jarang kita lihat dalam sebuah lingkungan permukiman yang tertata rapi dengan infrastruktur lengkap, warganya ternyata ialah para kriminal kelas atas.  Karenanya selain kesehatan lingkungan secara fisik ekologis, kesehatan mental dan perilaku warga wajib mendapat perhatian.  Kondisi sehat, bersih, aman dan nyaman juga harus dibarengi dengan tingginya indeks kebahagiaan warga penghuni satuan hunian.  Sebagai perbandingan, organisasi kesehatan dunia (WHO) mencantumkan beberapa faktor yang menjadi ukuran kesehatan lingkungan yaitu : pengkondisian udara, pengendalian bahan kimia, perubahan iklim, penataan rumah/hunian, penataan aspek sosial, penyediaan air, penanganan sanitasi, dll dalam situs resmi mereka.

11.  Kelestarian dan Keberlanjutan

Bumi ini bukan milik generasi yang hidup sekarang melainkan warisan bagi generasi yang akan hidup setelah generasi yang hidup sekarang.  Pernah dengar kalimat ini bukan? Kalimat ini biasanya digunakan untuk menggugah motivasi atau membawa visi masa depan Bumi ke masa sekarang.  Dalam konteks perumahan dan permukiman, kelestarian lingkungan sebuah daerah hunian tentu saja menjadi tanggung jawab warga penghuni yang hidup sekarang agar generasi penerus yang akan menempati daerah tersebut nantinya dapat menikmati fasilitas yang kualitasnya sama atau bahkan lebih baik dari yang ada ketika ini.  Setiap warga memiliki tanggung jawab personal dan karenanya konsep kelestarian dan keberlanjutan wajib dijaga.  Lalu apa yang harus dilakukan? Prinsip perlindungan atas aset infrastruktur, kehati-hatian dalam perencanaan/implementasi dan keseimbangan dalam penataan bangunan dan lingkungan harus diterapkan.  Dengan demikian kelestarian dan keberlanjutan daerah permukiman tersebut dapat dicapai.

12.  Keselamatan, Keamanan & Ketertiban

Keselamatan warga dari bahaya bencana alam/gangguan hewan buas, bahaya penularan wabah penyakit, bahaya terpapar bahan kimia, keamanan dari sisi finansial, politik dan psikologis serta ketertiban dalam berkehidupan bermasyarakat ialah faktor yang tak kalah penting bahkan sangat penting dalam pertumbuhan sebuah daerah permukiman.  Dengan memperhatikan keselamatan, keamanan dan ketertiban maka warga akan menemukan kenyamanan dalam berkehidupan sosial dalam daerah permukiman tersebut.

Demikian beberapa hal dasar yang harus diperhatikan dalam tumbuh dan berkembangnya sebuah daerah permukiman.  Masih banyak faktor lain yang mampu menghipnotis sebuah daerah permukiman dan akan kita membahasnya pada kesempatan yang lain.

Subscribe to receive free email updates:

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − 16 =