CERITA PENDEK (CERPEN) “AYAH, AKU KECEWA”

Posted on 2 views

AYAH , AKU KECEWA

?Ayah dengarkanlah saya ingin bertemu, walau hanya dalam mimpi??

Terdengar lantunan lagu lawas dari radio kesayanganku, sungguh merdu tetapi cukup menyayat hati saat mendengarnya. Ingatan masa lalu yang sangat buruk, tiba-tiba melintas dalam benakku. Tak kusadari air mata jatuh membasahi pipiku, seiring dengan tetesan air hujan di luar sana pada suatu sabtu sore. Saya seolah-olah kembali pada masa lalu, ketika ayah masih di rumah ini, bercanda tawa, berkumpul bersama saya, saudara termuda, dan ibuku. Seketika, ingatan itu membuat saya tersenyum, senyuman terharu. Jujur, saya merindukan ketika itu. Ketika yang tak akan mampu diulang. Anganku hilang ketika ibu masuk ke dalam kamarku untuk membawakan segelas susu yang saya minta tadi, membuatku tersadar bahwa semua itu hanyalah imaginasiku semata.

?Mengapa engkau menagis, Anakku??

?Saya teringat ayah, Bu.?

?Tabah, Nak. Walaupun sekarang ayah sudah tidak bersama kita lagi, beliau absolut bahagia dengan keluarganya yang baru. Ibu yakin, ayahmu absolut akan tetap mengingatmu.?

Baca juga: 6 Tips Solo Backpacker untuk Pemula

Saya tak kuasa untuk tidak menangis, pikiranku bingung. Saya tidak bisa menghadapi semua ini. Acapkali saya berpikir, yang kuasa begitu jahat, apa salahku? Mengapa saya diberi cobaan mirip ini. Saya tak kuat. Tapi, saya selalu yakin, ini semua hanyalah sebuah test kesabaran dari yang kuasa untukku. Saya hanya remaja biasa yang tidak seberuntung remaja-remaja lainnya. Ayahku bercerai saat saya baru menginjak bangku kelas satu sekolah dasar. saya pun tak pernah bertemu ayahku semenjak perceraian itu. Oleh karena itu, saya tumbuh menjadi remaja yang sangat mengimpikan sosok seorang ayah yang mampu menemaniku dalam masa labil ini.

?Tapi, Bu. Saya sangat ingin bertemu dengan ayah. Sudah hampir sebelas tahun saya tidak bertemu dengan ayah?

Ibu hanya mampu memelukku dan menenangkanku yang sedang menangis sesenggukan. Sehingga saya pun tertidur dalam pelukan ibu. Dalam tidur, saya bermimpi, ayah datang menemui saya, beliau menghampiriku kemudian memelukku, tetapi kemudian ayah pergi meninggalkan saya. Saya terbagun dari tidur dan mencoba mengartikan mimpi itu, membisu. Saya menangis, lagi.

Baca juga: RESOLUSI TRAVELING 2019!

Keesokan harinya, saya beragkat sekolah mirip biasa. Hingga di depan sekolah, saya melihat temanku yang diantar oleh ayahnya. Entah mengapa, melihat itu semua saya merasa iri, kembali teringat kepada ayahku. Saya cuma mampu melihat mereka dengan iri, saya ingin mirip dia. Ingin sekali. Menghela nafas, dan segera memasuki sekolah dan menuju ruangan kelasku.

Baca Juga:  Tips Menyelesaikan Tugas Akhir Teknik Sipil

Pelajaran demi pelajaran di hari selasa, saya lewati dengan pikiran dan pandangan kosong. Saya memikirkan ayahku, bagaimana keadaan beliau sekarang, apakah sudah tua, masih ingatkah dengan saya. Lamunanku pun terganggu karena panggilan dari sahabat di sebelahku.

?Hello, kau dipanggil guru BK?

?Ada apa??

?Saya juga tidak tahu, cepatlah pergi ke ruang Bk. Tadi gurunya bilang jika kau ada tamu.?

?Ohh.. Gitu. Thanks iya.?

Saya eksklusif menuju ke ruang BK, melamun lagi. Saya mencoba menduga, siapa yang menemui saya pada ketika jam sekolah. Apakah ibuku? Atau tetanggaku? Atau siapa? Siapa? Siapa?. Pikiran buruk mulai merasuk, berkecamuk dalam benakku. Hingga di ruang BK, saya melihat sosok yang sudah saya kenal namun saya masih belum yakin dengan apa yang terlihat oleh mataku. Saya hanya berdiri, membisu terpaku. Tak percaya dengan apa yang saya lihat.

?Nak, ini ayah. Apa kau masih ingat dengan ayah??

?Kenapa ayah kesini?! Bukankah ayah sudah lupa dengan saya? Bukankah ayah sudah tak mau bertemu denganku??

?Ayah tidak lupa dengan kau, Nak.?

?Tapi, tapi kenapa Ayah tak pernah menemui saya? Sudah hampir sebelas tahun lebih, Yah.?

?Ayah tak akan lupa denganmu, ayah tak pernah menemui kau karena ayah takut, ayah takut kau tidak mampu mendapatkan semua perlakuan ayah di masa lalu.?

“apa ayah pernah berpikir? Bagaimana rasanya menjadi saya? Selama ini saya hanya mampu membayangkan perhatian penuh dari sosok ayah. Tapi mengapa ayah menghilang, kemana ayah pada ketika saya benar-benar membutuhkan sosok seorang ayah untuk memperhatikan saya? Ayah benar-benar tega  sama saya.”

?Maafkan ayah, Nak.?

Baca juga: 5 HALANGAN TAK TERDUGA SAAT TRAVELLING

?Mengapa Ayah tidak pernah memberiku kabar? Nir memberiku nomor telepon? Nir memberiku alamat rumah? Apa ayah tidak mau bertemu saya? Ayah jahat. Ayah tega.?

Setelah mengucapkan semua itu, saya menangis. Saya galau harus berbuat dan berucap apalagi. Hatiku sakit. Masih ada sebersit kebencian dalam hatiku atas perbuatan ayah sebelas tahun yang lalu. Rasa rindu, rasa senang, rasa duka, terharu bercampur menjadi satu.

?Lebih baik ayah pulang, saya mau kembali ke kelas.?

?Nak.. Maafkan ayah.?

?Saya mampu memaafkan ayah, tapi maaf, Yah. Saya masih kurag mampu mendapatkan semua ini. Saya kembali ke kelas dulu. Assalamualaikum?

Baca Juga:  Ide Pesta Ulang Tahun Anak Tema Konstruksi

Sorenya, di kamar. Saya kembali memikirkan persoalan tadi. Ditemani segelas teh, saya hanya mampu berpikir, kenapa saya begitu tega sama ayah? Kenapa saya sama sekali tidak menghargai ayah, padahal beliau sudah menyempatkan diri untuk menemuiku. Tapi kenapa saya malah membuat beliau kecewa. Saya menyuruh beliau pulang. Padahal beliau sangat ingin bertemu denganku. Ahhh! Begitu bodohnya saya.

?Nak, kau sedang apa??

Ibu dan saudara termuda memasuki kamarku. Saya pun segera bercerita perihal pertemuanku tadi di sekolah dengan ayah.

Baca juga: Perencanaan Budget atau Keuangan untuk Travelling

?Ibu, saya mau bercerita.?

?Apa yang ingin kau ceritakan, Nak? Bolehkah adikmu ikut serta mendengarkannya.?

?Tentu, tadi ayah datang ke sekolah untuk menemui saya, Bu.?

?Hah???

?Iya Bu, beliau berkata jika sangat ingin bertemu denganku. Tapi, saya malah memarahi ayah dan menyuruh ayah pulang.?

Asyikku bercerita dengan Ibu. Kami lupa dengan waktu. Sehingga setelah saya selesai bercerita, ibu pun eksklusif menyuruhku untuk makan malam dan segera belajar untuk hari esok.

Walaupun saya pergi belajar, tapi tetap saja. Pikiranku tetap tertuju pada ayah. Saya sangat menyesal. Saya yakin, ayah memang tidak lupa sama saya. Saya harus mampu mendapatkan semua ini dengan hati yang tulus. Saya tak mau terlarut dalam masa laluku. Kata ibuku, masa lalu itu hanya untuk dikenang bukan untuk diulang. Lagipula, saya tak perlu membenci ayahku. Seburuk-buruknya perlakuan ayahku beliau tetap ayahku, laki-laki paling hebat dalam hidupku.

Saya harus mampu menghadapi semua ini dengan hati yang ikhlas tulus. Saya tahu, ayahku sudah memiliki keluarga sendiri. Jadi terang, ayahku mungkin lebih banyak waktu buat mereka, dibandingkan dengan saya. Saya hanya mampu tersenyum, memikirkan semua ini. Senyum yang disertai dengan tetesan air mata bahagia. Semoga ayah mampu memaafkan perlakuan di siang tadi. Maafkan saya ayah, saya khilaf, telah berkata mirip itu. Maafkan anakmu ini, Yah.

Baca juga:

Catatan keong Estetika, Kecantikan, Keelokan gunung merbabu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + thirteen =