Bangunan Cagar Budaya dan Seluk Beluk Penanganannya Sebagai Bentuk Kepedulian Kita Pada Kesejarahan Bangsa

  • Share

FAKTA SEJARAH

Indonesia ialah negara dengan sejarah panjang yang tercatat semenjak zaman Kerajaan Majapahit merajai Semenanjung Malaka sampai Papua New Guinea hingga pada deklarasi kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 sebagai negara modern yang terus membangun sampai sekarang.

Kalau melirik fakta sejarah sepanjang kira-kira 800 tahun itu, tentu saja ada begitu banyak peninggalan sejarah yang masih terus ada sampai ketika ini. Keraton, candi, balai atau benda apapun yang berbentuk peninggalan senjata, alat makan bahkan alat tulis dapat ditemukan di seantero nusantara. Karena blog ini mengambil niche infrastruktur, bangunan dan tata ruang maka goresan pena kali ini hanya akan membicarakan bagaimana seharusnya kita memperlakukan benda peninggalan bersejarah yang berbentuk bangunan cagar budaya agar dapat terus memberi manfaat bagi penerus kita kelak.

Benteng Ulupahu, satu dari tiga serangkai bangunan benteng di kompleks Benteng Otanaha Kota Gorontalo. Sebuah bangunan cagar budaya yang dilestarikan keberadaannya sampai kini.

Bangunan Cagar Budaya ialah warisan sejarah berupa bangunan gedung yang sudah ditetapkan statusnya sebagai bangunan cagar budaya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perihal cagar budaya yaitu Undang-Undang No 11 Tahun 2010 dan ketentuan turunannya.  Jadi tidak semua bangunan bersejarah mampu disebut atau diperlakukan secara legal sebagai “Bangunan Cagar Budaya”.  Proses untuk menerima status legal ini ialah sebuah proses panjang yang terdiri dari tahapan pendaftaran, pengkajian, penetapan, pencatatan, pemeringkatan sampai penghapusan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi sebuah bangunan gedung untuk mampu ditetapkan sebagai bangunan gedung cagar budaya yaitu :

1. Berusia lebih dari 50 tahun

2. Mewakili masa atau gaya arsitektur yang telah berumur lebih dari 50 tahun

3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama atau kebudayaan

4. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Akan tetapi bangunan atau struktur yang menurut penelitian memiliki arti khusus yang penting bagi bangsa tetap dapat diusulkan menjadi bangunan cagar budaya meskipun tidak memiliki kriteria mirip diatas.

PENTINGNYA PELESTARIAN BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA

Pelestarian Bangunan Cagar Budaya mutlak dilakukan agar arti dan peran penting bangunan tersebut dari sisi penguatan identitas lokal maupun nasional, peningkatan nilai budaya sampai peningkatan nilai ekonomi mampu dicapai demi kepentingan kawasan, bangsa dan negara. Karenanya, Penyelenggaraan bangunan Gedung Cagar Budaya wajib diperhatikan oleh pemilik bangunan baik itu perseorangan, badan hukum, kelompok orang, perkumpulan maupun pemerintah/pemerintah kawasan maupun juga oleh para penyedia jasa sebagai penyelenggara Bangunan Gedung Cagar Budaya.

Hal pertama yang harus anda lakukan kalau anda memiliki bangunan yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya ialah melakukan kajian identifikasi dan mengusulkan penanganan pelestarian. Akibat kajian paling tidak harus berisi keputusan kelayakan penanganan fisik bangunan cagar budaya yang dilestarikan baik secara keseluruhan maupun secara sebagian dan batasan penanganan fisik kegiatan teknis pelestarian yang dilengkapi dengan peta, gambar dan foto bangunan gedung. Kalau kajian sudah selesai dilakukan maka usulan penanganan pelestarian dapat disusun berupa rekomendasi tindakan pelestarian. Tentu saja tindakan pelestarian ini harus mengikuti prinsip sesedikit mungkin melakukan perubahan, sebanyak mungkin mempertahankan keaslian dan yang tidak kalah penting ialah prinsip kehati-hatian dalam melakukan perubahan.

Oh iya, di setiap kawasan seharusnya sudah ada lembaga yang namanya TABG-CB (Tim Pakar Bangunan Gedung Cagar Budaya) yang ditetapkan oleh Walikota atau Bupati sebagai kepala kawasan. Kegiatan pengkajian dan rekomendasi kegiatan teknis pelestarian harus dikonsultasikan kepada TABG-CB ini untuk menerima pertimbangan. Jangan lupa, sebagaimana diamanatkan oleh UU Jasa Konstruksi, maka kegiatan kajian identifikasi dan rekomendasi penanganan fisik harus dikerjakan oleh penyedia jasa bidang arsitektur yang berkompeten dalam pelestarian bangunan cagar budaya.

Rekomendasi tindakan yang dapat dilakukan dalam pelestarian bangunan gedung cagar budaya ialah berupa perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan

Rekomendasi tindakan pelestarian apa saja yang dapat diusulkan ?

Rekomendasi tindakan dapat berupa perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan.

PERLINDUNGAN dapat didetailkan sebagai tindakan :

A. Pemeliharaan

Yaitu upaya untuk mempertahankan dan menjaga serta merawat agar kondisi bangunan gedung cagar budaya tetap lestari.

B. Perbaikan

Yaitu upaya pelestarian yang terdiri dari :

1. Rekonstruksi, upaya membangun kembali keseluruhan atau sebagian bangunan gedung cagar budaya yang hilang dengan menggunakan konstruksi baru agar menjadi mirip wujud sebelumnya pada periode tertentu.

2. Konsolidasi, upaya penguatan bagian bangunan gedung cagar budaya yang rusak tanpa membongkar seluruh bagunan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

3. Rehabilitasi, upaya pemulihan kondisi suatu bangunan gedung cagar budaya agar dapat dimanfaatkan secara efisien untuk fungsi kekinian dengan cara perbaikan atau perubahan tertentu dengan tetap menjaga nilai kesejarahan, arsitektur dan budaya.

4. Restorasi yaitu upaya mengembalikan kondisi bangunan gedung cagar budaya secara akurat sesuai keasliannya dengan cara menghilangkan elemen/komponen dan fabric tambahan atau mengganti komponen yang hilang agar menjadi mirip wujud sebelumnya pada periode tertentu.

sedangkan PENGEMBANGAN dapat didetailkan sebagai tindakan :

A. Revitalisasi

Yaitu upaya untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai penting bangunan gedung cagar budaya dengan penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat.

B. Adaptasi.

Yaitu upaya pengembangan bangunan gedung cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan cara melakukan perubahan terbatas yang tidak mengakibatkan penurunan nilai penting atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting.

PERENCANAAN

Nah sekarang, apapun rekomendasi tindakan pelestarian yang akan dilakukan, semuanya harus dibuatkan dokumen agenda teknisnya. Tindakan rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, restorasi, revitalisasi maupun adaptasi harus melalui tahap perencanaan teknis perlindungan bangunan gedung cagar budaya yang dokumennya memuat catatan sejarah; foto, gambar, akibat pengukuran, catatan-catatan penting dan video; uraian dan analisis atas kondisi yang sudah ada dan inventarisasi kerusakan bangunan gedung dan lingkungannya; usulan penanganan (apakah pilihannya rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, restorasi, revitalisasi maupun adaptasi); gambar agenda; perhitungan konstruksi, ME dan plambing; RAB dan RKS (agenda kerja dan syarat-syarat).

Selain itu karena ini ialah bangunan penting yang biasanya iconic maka harus juga dibuatkan agenda teknis pengembangan dan pemanfaatan bangunan gedung cagar budaya yang berisi potensi nilai; berita dan promosi; agenda pemanfaatan; agenda teknis tindakan pelestarian dan agenda pemeliharaan perawatan dan pemeriksaan bersiklus.

Kedua dokumen agenda teknis diatas mampu disatukan kalau obyek bangunan sebelumnya telah ditetapkan fungsinya semenjak awal. Selain itu juga harus tetap dikonsultasikan dengan TABG-CB setempat untuk menerima pertimbangan. Undang-Undang Bangunan Gedung dan juga Undang-Undang Jasa Konstruksi mengamanahkan agar dokumen perencanaan teknis ini dikerjakan oleh penyedia jasa yang berkompeten dalam artian harus menyediakan tenaga ahli pelestarian bangunan gedung cagar budaya yang bersertifikat.

PELAKSANAAN TINDAKAN PELESTARIAN DAN PENGAWASANNYA

Pada tahap pelaksanaan, penyedia jasa yang ditunjuk harus merujuk pada dokumen agenda teknis yang telah disahkan oleh pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi untuk DKI Jakarta dan pemerintah sentra  untuk bangunan cagar budaya fungsi khusus.  IMB juga harus diurus sebelum pelaksanaan pembangunan dimulai, namun kalau pelaksanaan tindakan pelestarian tidak mengubah fungsi, bentuk, karakter fisik atau tidak melakukan penambahan bangunan gedung maka pengurusan IMB tidak diharapkan. Untuk pelaksanaan tindakan pelestarian yang tidak mewajibkan IMB ini, pemilik, pengguna atau pengelola wajib memasang tanda khusus yang resmi pada lokasi gedungnya.  Aplikasi tindakan pelestarian bangunan gedung cagar budaya tidak boleh menyebabkan gangguan pada lingkungan sekitarnya dan karenanya harus ditangani oleh penyedia jasa profesional bersertifikat. Aplikasi tindakan pelestarian bangunan gedung cagar budaya juga harus diawasi penyedia jasa yang berkompeten agar tidak melenceng dari dokumen perencanaan teknis. Dengan demikian tujuan tindakan pelestarian dapat tercapai dengan maksimal.

Demikianlah, apa yang mampu anda lakukan pada gedung anda kalau gedung anda berpotensi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau telah ditetapkan sebelumnya sebagai bangunan cagar budaya.  Satu hal yang harus selalu diingat ialah bangunan cagar budaya anda ialah bagian dari panjangnya jejak sejarah negeri ini. Karenanya kehadiran bangunan cagar budaya anda menjadi penting adalah sebagai penanda waktu bagi anak cucu kita kelak.

Salam pelestarian………………….

Subscribe to obtain free e mail updates:

Baca Juga:  Lowongan Kerja PT Indofood Sukses Makmur Tbk – Divisi Bogasari Flour Mills
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fourteen − 3 =