Apa Perbedaan Tenaga Terampil & Tenaga Ahli dalam Dunia Jasa Konstruksi?

  • Share

Dalam banyak naskah dan goresan pena kita mendapati kedua istilah ini. Ya tenaga ahli dan tenaga terampil ialah dua terminology yang sangat acapkali dibicarakan disebabkan oleh kewajiban bersertifikat yang diamanatkan oleh undang-undang jasa konstruksi yang baru dirilis awal tahun ini.

Tentu saja ada beberapa perbedaan mendasar yang dapat kita simak dalam goresan pena ini.

Output : Keterampilan (tenaga terampil) VS Kecendekiawanan (tenaga ahli)

Output seorang tenaga terampil ialah kemahiran sedangkan output seorang tenaga ahli ialah keilmuan. Ini yang membedakan tenaga terampil dan tenaga ahli. Seorang tenaga terampil akan menggunakan tangan dan kakinya untuk mengekspresikan ilmu yang didapatnya dari pelatihan sedangkan seorang tenaga ahli cenderung menggunakan daya pikirnya dalam menganalisa pekerjaan yang diserahkan kepadanya. Ini tidak berarti seorang tenaga terampil tidak menggunakan otak, namun memang dalam pembagian kerja suatu project, ada bagian-bagian yang sebagian besar harus dikerjakan dengan otot dan ada bagian-bagian yang sebagian besar harus dikerjakan dengan otak.

Proses Pembelajaran : Pelatihan (tenaga terampil) VS Pendidikan (tenaga ahli)

Dari sisi proses pembelajaran, seorang tenaga terampil menerima keterampilannya dari sebuah pelatihan. Mengapa pelatihan? Karena dalam sebuah pelatihan kita dituntut untuk berbagi sumber daya tenaga kerja, terutama untuk peningkatan profesionalisme yang berkaitan dengan keterampilan administrasi dan keterampilan manajemen (kepemimpinan). John R. Schermerhorn, Jr (1999 : 323), mengatakan bahwa pelatihan adalah ?Serangkaian aktivitas yang menawarkan kesempatan untuk menerima dan meningkatkan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan.? Jadi dalam pelatihan kita akan dapat mendekatkan kesenjangan antara stage keterampilan yang diperlukan dengan level keterampilan yang ada.

Sebaliknya, dalam Pendidikan, dapat dikatakan bahwa seorang peserta didik mengalami proses memperluas kepedulian dan keberadaannya menjadi diri sendiri, atau proses mendefinisikan eksistensi diri sendiri di tengah-tengah lingkungannya. Pendidikan bersifat lebih umum dari pelatihan dan biasanya seorang Tenaga Pakar menerima keahliannya dari proses Pendidikan.

Baca Juga:  Tanaman Apotik Hidup

Hukum Administrasi Negara : Non Liable (tenaga terampil) VS Liable (tenaga ahli)

Kalau kita mendefinisikan Liable sebagai tanggung jawab maka kita dengan segera mematok bahwa frase Non Liable ialah tidak bertanggung jawab. Ini tidak benar sama sekali karena seorang tenaga terampil tentu saja tetap akan dimintakan pertanggungjawabannya atas pekerjaan yang telah atau sedang dilakukannya. Akan tetapi dalam pelaksanaan sebuah project, biasanya dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pembangunan project tersebut diserahkan legal form nya kepada tenaga ahli. Sebuah dokumen sudah legal kalau mendapat signature dari tenaga ahli dan siap dilaksanakan pembangunannya oleh tenaga terampil. Itulah perbedaan seorang tenaga terampil dengan tenaga ahli dari segi Sah Liability.

Bakuan Kompetensi : Job related (tenaga terampil) VS Professional related (tenaga ahli)

Sebuah profesi ialah berbeda dengan sebuah pekerjaan. Profesi menuntut penguasaan ilmu yang rumit yang sangat dipengaruhi oleh tingkat Pendidikan dan level keahlian. Sebuah profesi biasanya dipandang lebih tinggi di masyarakat, bukan karena banyaknya uang yang didapat dari profesi tersebut melainkan karena ilmu dan pengalaman yang dimliki oleh sang pemilik profesi. Seorang yang berprofesi sebagai guru misalnya, meskipun hidup sederhana namun sangat dihormati masyarakat karena ketinggian ilmunya. Begitu juga dalam dunia Innformation Teknology, seorang Web Designer biasanya lebih dihormati karena pengalaman dalam membuat karya-karyanya dibandingkan seorang operator komputer yang tugasnya hanya mengetik.

Pekerja ialah seorang individu yang bertujuan untuk membantu orang-orang dalam masyarakat yang tidak bisa atau kesulitan dalam menangani persoalan kehidupan yang mereka hadapi. Pekerja dapat melakukan tugas mereka di sekolah, rumah sakit, organisasi, dan sektor publik lainnya. Jadi pendefinisian tenaga kerja lebih pada tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan khusus yang digunakannya untuk menerima kesejahteraan.

Uji Kompetensi : Uji Keterampilan (tenaga terampil) VS Peer to peer assessment (tenaga ahli)

Dari sisi pandang pegujian kompetensi, seorang tenaga terampil akan memperoleh pengakuan legal dari negara melalui sebuah uji keterampilan. Dalam uji keterampilan sang tenaga terampil akan dilihat kecermatan menggunakan alat kerja, kemahiran mengolah material hingga pada ketenangan dalam menyelesaikan persoalan dalam bahan kompetensi yang diujikan. Ad interim itu, seorang tenaga ahli akan mendapat pengakuan legal melalui sebuah diskusi alot mengenai sharing pengetahuan, motivasi, sharing ilham dan bahkan sharing pengalaman berkecimpung dalam dunia keahlian yang digelutinya. Kalau dalam uji keterampilan seorang tenaga terampil dinilai dari benda yang dihasilkan, maka seorang tenaga ahli dinilai dari level pendalaman mengenai keahlian yang diujikan kepadanya.

Baca Juga:  Daftar Blog Teknik Sipil Terbaik Indonesia

Organisasi : Perkumpulan pekerja (tenaga terampil) VS Asosiasi profesi (tenaga ahli)

Tenaga terampil membela kepentingan-kepentingan mereka, merumuskan tujuan organisasinya, menyalurkan aspirasi demokratisnya melalui serikat pekerja sedangkan seorang tenaga ahli mengikatkan diri dalam organisasi organisasi profesi mirip Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dll

Regulasi : UU No thirteen Tahun 2003 (tenaga terampil) VS UU No eleven tahun 2011 (tenaga ahli)

Seorang tenaga terampil dilindungi oleh UU No 13 tahun 2003 perihal ketenagakerjaan. Dalam undang-undang itu diatur mengenai, kontrak kerja, upah, lembur, pemutusan relasi kerja sampai ke hal-hal besar mirip outsourcing, stabilitas ekonomi perusahaan sampai ke kebijakan keberpihakan negara terhadap kaum pekerja.

Disisi lain, seorang tenaga ahli dilindungi oleh UU No eleven tahun 2011 perihal Keinsinyuran. Undang undang ini mengatur perihal cakupan Keinsinyuran mirip standar Keinsinyuran, Acara Profesi, registrasi kedalam organisasi, bagaimana kiprah Insinyur Asing di Indonesia, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, hak dan kewajiban, sampai kepada kelembagaan, organisasi profesi dan bagaimana pembinaan Keinsinyuran dikembangkan.

Demikian sekilas perbedaan antara tenaga kerja terampil dengan tenaga ahli yang dapat kami rangkum dalam satu goresan pena. Semoga mampu berkhasiat dalam menerima pemahaman yang lebih baik mengenai seluk beluk kedua jenis tenaga kerja yang aktif dibahas dalam dunia konstruksi ini.

Subscribe to get hold of unfastened e-mail updates:

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two + 14 =